JAYAPURA, Wartajayavision.com,
Peneliti dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan Badan Riset Nasional (BRIN), Hari Suroto, mengungkapkan bahwa Selenocosmia arndsti adalah spesies laba-laba yang ditemukan di Papua dan Papua Nugini.
Hewan ini sering disebut sebagai laba-laba pemakan burung. Menurut Suroto, laba-laba ini dinamakan demikian karena memiliki ukuran tubuh yang besar serta kemampuan memanjat dan memangsa burung yang terjerat dalam jaringnya.
“Laba-laba ini termasuk dalam genus Selenocosmia. Laba-laba ini juga disebut laba-laba bersiul. Saat terprovokasi, laba-laba ini akan mendesis dengan cara menggesekkan setae pada chelicerae untuk pertahanan diri,” jelasnya kepada Wartajayavision.com, pada Rabu (3/12/2025).
Ukuran laba-laba ini relatif besar, dengan rentang kaki mencapai 22 cm dan panjang tubuh antara 6 hingga 9 cm. Laba-laba ini ditemukan di dalam lubang tanah dengan kelembaban tinggi di hutan tropis Papua.
“Dalam sarangnya, laba-laba berdiam diri, tenang dan jinak. Meskipun berbisa, racun laba-laba umumnya tidak terlalu berbahaya bagi manusia, tetapi gigitannya dapat menyebabkan rasa sakit dan nyeri,” ungkap Suroto.
Sebagai peneliti yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun di Papua, Suroto menjelaskan bahwa laba-laba ini memangsa serangga, burung dan kelelawar. Jaring laba-laba tersebut sangat kuat karena kaya protein yang berasal dari serangga yang menjadi makanan mereka.
“Setiap kelelawar atau burung yang terjerat tidak akan terlepas dari jaring laba-laba. Laba-laba tidak akan menyerang sampai burung atau kelelawar melemah,” ujar Suroto.
“Biasanya, burung atau kelelawar memakan serangga, termasuk laba-laba, namun sebaliknya, laba-laba ini malah memakan burung dan kelelawar yang terjebak di sarangnya,” sambungnya.
Suroto menambahkan bahwa laba-laba ini biasa ditemukan di hutan dengan kelembaban tinggi dan jarang ditemukan di kebun atau pekarangan yang langsung terkena sinar matahari. Ia juga menjelaskan bahwa kebiasaan membakar ranting, kayu, atau rumput kering sisa pembersihan lahan menyebabkan laba-laba dan jaringnya sering ikut terbakar.
“Masyarakat Papua ketika masuk hutan dan menemukan laba-laba ini menganggapnya sebagai hal yang biasa, karena laba-laba ini tidak akan mengganggu atau menyerang,” ucapnya.
Suroto berharap masyarakat dapat menjaga laba-laba ini dengan tidak menangkap atau membunuhnya, karena hewan ini merupakan salah satu spesies endemik di wilayah Papua dan Papua Nugini. “Kami harapkan masyarakat bisa menjaga spesies laba-laba ini dengan baik, tidak melakukan perburuan atau membunuhnya, karena laba-laba ini merupakan salah satu spesies asli yang ditemukan di Papua,” tutupnya.







