Pergerakan Harga Bitcoin di Tengah Kondisi Makroekonomi Global
Harga Bitcoin (BTC) kembali mengalami penurunan. Berdasarkan data dari Coin Market Cap pada Kamis (22/1/2026) pukul 17.53 WIB, harga Bitcoin berada di level US$ 89.962, dengan penurunan sebesar 7,03% dalam seminggu terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa pasar kripto sedang menghadapi tekanan yang berasal dari berbagai faktor global.
Vice President Indodax, Antony Kusuma, menjelaskan bahwa penurunan harga Bitcoin hingga di bawah level US$ 90.000 dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi dan geopolitik yang semakin memburuk. Dari sisi global, sentimen risiko (risk-off) meningkat akibat ketidakpastian ekonomi dan konflik politik. Beberapa isu yang menjadi perhatian utama adalah eskalasi perang tarif antara Amerika Serikat dan Eropa, dinamika geopolitik terkait Greenland, serta gejolak di pasar obligasi Jepang.
“Pasar keuangan global diguncang oleh lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang yang mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir,” ujar Antony kepada media. Lonjakan tersebut menunjukkan adanya aksi jual di pasar surat utang, sehingga mendorong investor untuk mencari aset yang lebih likuid. Akibatnya, sentimen risk-off meluas dan memicu pengurangan eksposur terhadap aset berisiko seperti saham dan kripto.
Namun, Antony menegaskan bahwa koreksi ini tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekosistem Bitcoin dan kripto secara keseluruhan. Ia menilai bahwa Bitcoin semakin matang dan terintegrasi dengan sistem keuangan global. Dengan meningkatnya partisipasi investor institusional, Bitcoin kini lebih responsif terhadap dinamika makroekonomi, suku bunga, likuiditas global, serta isu-isu geopolitik, mirip dengan aset lain seperti saham dan komoditas.
Antony juga menyebut bahwa tren pergerakan Bitcoin menunjukkan potensi pemulihan menuju level US$ 100.000. Namun, hal ini masih bergantung pada kondisi pasar makro global dan kemampuan Bitcoin untuk menembus area resistensi teknikal di kisaran tersebut. Dalam jangka pendek, pergerakan harga masih cenderung fluktuatif karena tingginya sensitivitas pasar terhadap sentimen geopolitik dan kebijakan perdagangan global.
Beberapa faktor positif seperti meredanya tensi geopolitik setelah adanya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Eropa terkait isu Greenland, serta pembatalan rencana kenaikan tarif, telah membantu Bitcoin kembali menguat ke atas level US$ 90.000. Meski demikian, pemulihan ini masih perlu konfirmasi lanjutan.
Analyst Reku, Fahmi Almuttaqin, menilai bahwa dalam jangka pendek, pergerakan Bitcoin masih berpotensi fluktuatif. De-eskalasi konflik Greenland dan penangguhan tarif AS telah memicu relief rally yang membawa Bitcoin kembali ke area US$ 90.000. Namun, ia menekankan bahwa pasar tetap sensitif terhadap perkembangan lanjutan, terutama terkait kebijakan perdagangan AS dan agenda geopolitik.
Peluang Bitcoin untuk kembali menguji level psikologis US$ 100.000 tetap terbuka jika sentimen global terus membaik dan tidak ada eskalasi risiko baru dalam waktu dekat. Antony menambahkan bahwa prospek harga Bitcoin pada triwulan pertama 2026 dapat dilihat melalui dua skenario utama: skenario positif dan skenario yang lebih berhati-hati.
Dalam skenario positif, Bitcoin berpotensi stabil atau bahkan menguat secara bertahap jika sentimen pasar global membaik, tensi geopolitik mereda, dan likuiditas kembali mendukung aset berisiko. Dalam skenario ini, Bitcoin memiliki peluang untuk mempertahankan pergerakan di atas area support kunci dan kembali menguji level US$ 100.000, terutama jika didukung oleh arus partisipasi investor institusional yang kuat.
Sementara itu, dalam skenario yang lebih berhati-hati, Bitcoin berpotensi mengalami konsolidasi atau tekanan lanjutan jika volatilitas global tetap tinggi dan sentimen risk-off masih mendominasi pasar. Dalam situasi ini, pergerakan harga cenderung fluktuatif, dengan investor bersikap lebih selektif dan menunggu kejelasan arah pasar sebelum mengambil posisi lebih agresif.
Secara keseluruhan, pergerakan Bitcoin di triwulan pertama 2026 diperkirakan tetap dinamis. Oleh karena itu, penting bagi pelaku pasar untuk mencermati perkembangan makroekonomi global, kondisi likuiditas, serta sinyal teknikal sebagai acuan dalam membaca arah pasar ke depan.








