TEGAL – Objek wisata Bukit Rangkok di Desa Pagerwangi, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal, bukan sekadar destinasi rekreasi alam. Sejak direncanakan pada 2019 dan mulai beroperasi pada 2020, kawasan ini diposisikan sebagai benteng perlindungan ekosistem dari ancaman eksploitasi batu alam ilegal, dengan dukungan anggaran Dana Desa sekitar Rp300 juta. (17/01/2026)

Kepala Desa Pagerwangi, Waluyo, menjelaskan bahwa pengembangan wisata Bukit Rangkok—yang juga dikenal warga sebagai Bukit Batu—merupakan langkah strategis untuk menjaga kelestarian alam, meski secara ekonomi belum menghasilkan keuntungan besar.

“Manusia kadang punya sifat serakah. Sempat ada rumor batu-batu di sini akan diambil secara ilegal. Kalau tidak dijaga dengan menjadikannya objek wisata, lama-lama batu alam ini bisa habis. Walaupun pemasukan setahun hanya sekitar Rp10 juta, yang terpenting ekosistem tetap terjaga,” tegas Waluyo.

Fokus Wisata Minat Khusus

Memasuki tahun keenam operasional, Bukit Rangkok memantapkan diri sebagai wisata minat khusus berbasis alam dan edukasi. Berbeda dengan desa sekitar yang mengembangkan wisata kuliner, Bukit Rangkok lebih menonjolkan aktivitas luar ruang (outdoor).

Segmen pengunjung yang dibidik antara lain anggota Pramuka, pelajar, komunitas pencinta alam, serta kegiatan camping sekolah. Saat ini tersedia 15 unit tenda siap pakai dengan kapasitas hingga 100 orang, dengan tarif sewa mulai dari Rp40.000, sehingga terjangkau bagi kegiatan kelompok.

Transformasi Infrastruktur dan Pemberdayaan Warga

Seiring waktu, pengelola terus melakukan pembenahan fasilitas. Akses menuju lokasi kini telah terhubung dengan jalan rabat beton desa, memudahkan kendaraan masuk hingga area parkir.

Fasilitas penunjang juga terus dilengkapi, mulai dari instalasi listrik untuk kegiatan malam hari, MCK, hingga panggung pertemuan terbuka. Pengelolaan wisata melibatkan pemuda desa secara part-time, serta menggandeng warga sekitar untuk penyediaan kuliner bagi rombongan pengunjung.

Bertahan di Tengah Persaingan Wisata

Waluyo mengakui, pendapatan tahunan yang berkisar Rp10 juta hampir seluruhnya kembali digunakan untuk biaya operasional dan upah penjaga. Tantangan terbesar saat ini adalah peremajaan bangunan berbahan bambu yang mulai lapuk akibat cuaca serta perawatan area saat musim hujan, ketika pertumbuhan rumput meningkat pesat.

“Kami tidak semata mengejar profit. Pengalaman dari tempat lain mengajarkan bahwa modal besar bukan jaminan. Kekuatan kami ada pada sinergi dengan warga dan komitmen menjaga alam,” tambahnya.

Melalui konsep tersebut, Bukit Rangkok Desa Pagerwangi membuktikan bahwa pariwisata tidak hanya soal hiburan, tetapi juga dapat menjadi instrumen konservasi lingkungan, memastikan generasi mendatang tetap bisa menikmati keasrian perbukitan Tegal yang autentik.

Penulis: Teguh AW

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *