Pencapaian IKUB Tertinggi dalam Sejarah Indonesia

Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) Indonesia pada tahun 2025 mencapai angka tertinggi sepanjang sejarah, yaitu 77,89. Angka ini menunjukkan semangat kebersamaan lintas iman yang semakin kuat di tengah masyarakat. Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam puncak Festival Kasih Nusantara yang dirangkai dengan perayaan Natal bersama Kementerian Agama, Senin malam, 29 Desember 2025, di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur.
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen bekerja sama dengan Direktorat Jenderl Bimbingan Masyarakat Katolik. Acara ini dihadiri oleh tokoh agama dan unsur pimpinan negara. Menurut data dari Kemenag, Provinsi Jawa Tengah memiliki skor IKUB tertinggi di atas rata-rata nasional, yakni sebesar 80,07. Nasaruddin menyebut bahwa tahun ini adalah tahun yang paling rukun dalam sejarah Indonesia sejak kemerdekaan.
Keberhasilan IKUB sebagai Bentuk Konsistensi Dialog Lintas Agama
Menurut Nasaruddin, indeks kerukunan yang mencapai 77,89 secara nasional menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia semakin mampu merawat perbedaan sebagai kekuatan bersama. Ia mengatakan bahwa capaian ini merupakan hasil dari konsistensi dialog lintas agama, kerja sama sosial, serta sikap saling menopang di tengah berbagai tantangan kebangsaan.
Perayaan Natal tahun ini berlangsung dalam suasana keprihatinan nasional akibat musibah yang menimpa sejumlah wilayah seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Namun, situasi ini justru memperlihatkan solidaritas antarsesama warga bangsa, termasuk doa bersama lintas daerah dan lintas agama. “Tidak ada Natal tanpa doa untuk saudara-saudara kita yang terdampak musibah,” ujarnya. Nasaruddin menilai empati kolektif tersebut menjadi fondasi penting bagi meningkatnya kualitas kerukunan umat beragama di Indonesia.
Festival Kasih Nusantara sebagai Momentum Bersejarah
Nasaruddin menyebut Festival Kasih Nusantara sebagai momentum bersejarah karena untuk pertama kalinya Natal dirayakan secara bersama dengan mengumpulkan energi kebersamaan lintas denominasi dan lintas komunitas. Pendekatan ini dinilai memperkuat rasa saling memiliki dalam bingkai kebangsaan.
Dalam refleksinya, Nasaruddin juga menyoroti makna Natal sebagai peringatan lahirnya figur teladan yang mengajarkan pengorbanan, cinta, dan kepedulian. Nilai-nilai tersebut, kata dia, selaras dengan prinsip-prinsip semua agama dan menjadi penopang utama kerukunan sosial. Ia menambahkan bahwa Kementerian Agama akan terus mendorong penguatan nilai cinta dan kepedulian melalui kebijakan yang terukur, termasuk pendidikan keagamaan yang menekankan moderasi beragama dan kepedulian terhadap lingkungan.
Apresiasi kepada Masyarakat Indonesia
Nasaruddin menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Indonesia yang dinilainya mampu menjaga stabilitas sosial di tengah situasi global yang tidak menentu. Ia menilai kondisi Indonesia saat ini menjadi contoh bahwa kerukunan umat beragama dapat berjalan seiring dengan pembangunan nasional.
Harapan untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Nasaruddin berharap capaian Indeks Kerukunan Umat Beragama 2025 tidak berhenti sebagai angka statistik, tetapi menjadi pijakan untuk melangkah lebih jauh pada 2026. “Semoga kita membuka lembaran sejarah yang lebih baik, dengan kerukunan yang semakin kokoh,” katanya.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama, Jeane Marie Tulung, mengatakan bahwa Festival Kasih Nusantara dihadiri sekitar 2.500 undangan secara langsung serta diikuti secara daring dengan mengusung tema “Sea Light Christmas: Love in God, Harmony Together”. Tema ini mengajak umat menghadirkan terang kasih Tuhan sebagai pemersatu, penguat solidaritas, serta peneguh harmoni kehidupan berbangsa.
Jeane menambahkan bahwa sebelum puncak Festival Kasih Nusantara digelar, pihaknya juga telah melaksanakan beberapa kegiatan, di antaranya jalan sehat lintas agama, aksi sosial dan pembagian sembako kepada panti asuhan lintas agama, pemeriksaan kesehatan gratis, seminar Sea Light di Surabaya, Manado, dan Sorong, serta aksi bersih-bersih rumah ibadah.
Selain itu, Kementerian Agama juga menyalurkan 3.300 paket bantuan bagi masyarakat terdampak bencana banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. “Melalui bantuan dan pendampingan pastoral, kami ingin menumbuhkan harapan bagi saudara-saudara kita yang terdampak bencana,” kata Jeane.








