INDRAMAYU, WARTAJAYAVISION.COM
Dinas PUPR direpotkan oleh ulah pembuang sampah sembarangan tidak pada tempatnya, pasalnya kurang kesadaran masyarakat membuang sampah pada saluran irigasi, sehingga terjadi adanya penyumbatan arus air dari hulu ke hilir terganggu.
Seperti hal ini terjadi di saluran Kalensana diperbatasan dua, Desa Losarang dan Muntur.
Awak media wartajayavision.com meninjau ke lokasi Saluran Kalensana terlihat ada beberapa pegawai pengairan TPOP bersama ‘Mantri’ Losarang Suswendi melakukan pengangkatan sampah yang berada di lokasi saluran keatas tanggul kalen.
Pekerjaan tersebut selalu dimonitoring oleh Pengamat Losarang Erun yang selalu berkoordinasi dengan DLH, dalam penanganan pembuangan sampah. Hasil kerja yang telah dilaksanakan dilaporkan ke Kepala UPTD PUPR Losarang Iman Sulaeman.
Dengan giatnya para pejuang pengairan untuk membantu para petani agar pasokan air berjalan baik dan normal sampai ke pesawahan, sampah diangkat ke darat dan diangkut oleh petugas Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan untuk dibuang ke tempat penampungan akhir (TPA).
Mantri Suswendi saat dikonfirmasi, Ia mengatakan pekerjaan ini merupakan konsekuensi kita sebagai petugas PUPR yang harus diterima dan dikerjakan dengan ketulusan hati, ungkapnya.
“Kita sebagai petugas pengairan yang selalu siap, dimana air mengalir kita kawal, dan dengan numpuknya sampah pada saluran irigasi Kalensana merupakan wilayah kerja yang harus diperhatikan sepenuhnya, semisalnya sampah hasil pembuangan sampah liar dari masyarakat ke saluran, sehingga kita sigap untuk segera diangkat karena akan menyumbat aliran air, terang Manteri Suswandi.
Informasi yang awak media wartajayavision.com yang didapat oleh keterangan beberapa warga setempat, bahwa pembuangan sampah bukan dari masyarakat lingkungan Kalensana, akan tetapi hasil pembuangan sampah liar dari hulu, karena ditengarai pembuangannya pada malam hari, bahkan diduga membuang sampah sambil naik motor, terang warga yang tidak mau disebut jatidirinya, Rabu (3/1/24).
Sampah yang menyumbat disaluran irigasi Kalensana karena saluran tersebut melintasi didalam gorong gorong jalan raya Pantura Jakarta – Cirebon.
Gorong gorong yang terbangun sedari dulu, dibuat terlalu dasar sehingga air yang mengalir tersendat.
Petani sering mengusulkan agar ada pembangunan gorong gorong diganti dengan pembangunan jembatan, ini yang terucap saat ada pertemuan dengan pihak BBWS namun terkesan terabaikan.
Petani berharap segera terbangun adanya jembatan supaya aliran air bagi pertanian lancar.









