Membangun Ekosistem Pendidikan Seni di Hari Musik Nasional

Hari Musik Nasional yang jatuh pada tanggal 9 Maret menjadi momen penting untuk merefleksikan peran seni dalam pendidikan. Di dunia pendidikan, hari ini bisa diartikan sebagai kesempatan untuk membangun sebuah ekosistem pendidikan seni yang berkelanjutan dan mampu memuliakan potensi siswa.

Selama ini, potensi seni sering kali tidak digali secara maksimal oleh para pendidik. Dalam kurikulum pendidikan, kesenian yang diajarkan biasanya hanya mengangkat satu budaya tanpa memberikan ruang untuk mengenal kekayaan budaya lain yang ada di Nusantara. Padahal, pengenalan potensi kesenian dalam pendidikan sebenarnya terbuka luas.

Materi kesenian di Indonesia sendiri sangat melimpah, baik dari segi pengenalan budaya maupun musiknya. Ada banyak bahan materi yang bisa digunakan, seperti bentuk vokal, iringan, hingga tradisi budayanya. Contoh paling sederhana adalah bentuk vokal yang berbeda-beda di setiap daerah. Misalnya, cengkok lagu gaya Jawa jelas berbeda dengan gaya Madura, Batak, Sunda, atau Nias. Begitu juga dengan tradisi budaya mereka, semua daerah memiliki ciri khas yang unik.

Namun, alasan klasik sering kali menjadi penghalang. Keterbatasan jam pelajaran membuat kesenian sering hanya diajarkan secara teori. Padahal, materi yang tersedia cukup banyak dan bisa diolah secara mendalam. Untuk itu, diperlukan keberanian dalam mencari referensi pendukung pembelajaran seni. Teknologi AI dan media sosial seperti YouTube, Instagram, TikTok, dan Facebook bisa menjadi sumber referensi yang sangat membantu. Meskipun demikian, buku tetap menjadi sumber utama yang tidak boleh ditinggalkan.

Alat Peraga yang Tidak Terjangkau

Salah satu tantangan lain adalah keterbatasan alat peraga. Di wilayah Jawa Tengah, misalnya, gamelan sering kali tidak dimiliki oleh semua sekolah. Alih-alih alat musik tradisional seperti kolintang Minahasa, rebana Maluku, tihar dari Timor, keso-keso musik khas Toraja, dan lainnya, sekolah lebih memilih alat musik Barat seperti drumband, gitar, suling recorder, atau pianika karena dianggap lebih mudah dan memiliki gengsi.

Pertanyaannya, mengapa kita tidak lebih mengutamakan alat musik Timur, alat musik tradisional Indonesia, atau musik lokal? Bukankah ini bentuk konkret dari kepribadian dan cinta terhadap Indonesia? Jika kita tidak peduli pada budaya sendiri, maka budaya kita bisa saja diklaim oleh negara lain. Contohnya, reog Ponorogo yang pernah diklaim Malaysia, membuat kita sadar akan pentingnya menjaga dan melestarikan budaya bangsa.

Pentingnya Kesadaran Budaya dalam Pendidikan

Dalam pendidikan, kesadaran budaya harus menjadi prioritas. Anak-anak kita adalah ujung tombak penerus budaya bangsa. Oleh karena itu, pendidikan seni harus dilakukan dengan cara yang menarik dan menyenangkan agar anak didik tertarik untuk belajar.

Masalah utama yang sering muncul adalah guru yang kurang eksplorasi materi ajar. Banyak guru hanya berhenti pada teori, padahal jika diajarkan dengan praktik, siswa akan lebih tertarik untuk menirukan. Sebuah lagu atau musik tradisi yang sederhana, jika digarap dengan baik, bisa memberikan rasa musikal yang menyenangkan bagi anak didik. Bahkan, pelajaran bisa terasa begitu asyik sehingga siswa merasa kekurangan waktu.

Alat musik seperti sarunai, kolintang, rebana, tihar, gamelan, keso-keso, dan lainnya bisa menjadi bahan pembelajaran yang menarik. Guru seni perlu memiliki rasa kreatif yang tinggi agar seni bisa menjadi idola dan mencerahkan pikiran anak-anak. Saat ini, bagian ini sering kali kurang mendapat perhatian.

Menciptakan Pelajaran yang Menyenangkan

Sekarang saatnya menciptakan musik untuk siswa yang menggembirakan, bukan sebaliknya dengan materi yang membosankan. Dengan pendekatan yang tepat, pelajaran seni bisa menjadi ice breaking yang mampu mengurangi rasa jenuh dalam belajar. Selain itu, hal ini juga akan memberikan rasa Bhineka yang lebih kuat.






Hari Musik Nasional menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran akan pentingnya seni dalam pendidikan. Dengan membangun ekosistem pendidikan seni yang inklusif dan kreatif, kita bisa memastikan bahwa potensi seni anak-anak Indonesia dapat berkembang dengan optimal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *