Paus Leo XIV Mengkritik Penggunaan Kekuatan Militer dalam Diplomasi Global
Paus Leo XIV, pemimpin umat Katolik sedunia, menyampaikan pidato penting dalam acara “State of World” pertamanya kepada para diplomat yang terakreditasi di Takhta Suci. Dalam pidato tersebut, ia mengecam penggunaan kekuatan militer oleh negara-negara untuk mencapai tujuan diplomatik. Ia menilai bahwa kelemahan organisasi internasional dalam menghadapi konflik global adalah hal yang sangat mengkhawatirkan.
Menurut Paus, diplomasi yang mendorong dialog dan mencari konsensus di antara semua pihak sedang digantikan oleh diplomasi berbasis kekuatan. “Perang kembali menjadi tren dan semangat untuk berperang semakin menyebar,” ujarnya. Pidato ini disampaikan di Hall of Benediction, Apostolic Palace, Vatikan, pada hari Jumat (9/1/2026).
Takhta Suci saat ini memiliki hubungan diplomatik dengan 185 negara dan organisasi internasional. Dalam pidatonya, Paus Leo XIV juga menyoroti beberapa isu penting, termasuk konflik bersenjata, ketidakadilan, terorisme, dan ketidakbebasan beragama di berbagai negara.
Sorotan Kasus Venezuela
Dalam pidato awal tahunnya, yang menggunakan bahasa Inggris untuk pertama kalinya, Paus Leo XIV menekankan pentingnya diplomasi harapan. Ia menyoroti situasi di Venezuela, yang secara khusus disebutkan dalam pidatonya. Paus menyerukan diakhirinya konflik seperti yang terjadi di Ukraina, Timur Tengah Afrika, Asia (Myanmar), dan kawasan Karibia.
Ia menyatakan bahwa meningkatnya ketegangan di Laut Karibia dan sepanjang pantai Pasifik Amerika sangat memprihatinkan. “Saya ingin mengulangi permohonan mendesak saya, bahwa solusi politik yang damai untuk situasi saat ini agar diupayakan, dengan tetap memperhatikan kepentingan bersama seluruh rakyat dan bukan pembelaan kepentingan partisan,” desak Paus.
Secara khusus, Paus Leo XIV menekankan pentingnya menghormati kehendak rakyat Venezuela serta melindungi hak asasi manusia dan hak sipil semua orang, serta memastikan masa depan yang stabil dan harmonis.
Isu di Asia Timur dan Myanmar
Dalam pidatonya, Paus Leo XIV juga menyentuh situasi di Asia Timur. Ia menekankan bahwa tanda-tanda meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut tidak boleh diabaikan. “Kita tidak boleh mengabaikan tanda-tanda meningkatnya ketegangan di Asia Timur,” katanya.
Ketegangan di Asia Timur tinggi, terutama didorong oleh sengketa teritorial, seperti Taiwan dan Laut Cina Selatan. Selain itu, ada sengketa antara Thailand dan Kamboja. Titik rawan lainnya termasuk program nuklir Korea Utara, klaim maritim yang melibatkan banyak negara, serta persaingan strategis yang melibatkan AS.
Paus Leo XIV juga menyebutkan Myanmar dalam pidatonya. “Pikiran saya secara khusus tertuju pada krisis kemanusiaan dan keamanan yang parah yang melanda Myanmar,” katanya. Ia kembali menyerukan agar jalan perdamaian dan dialog inklusif dipilih dengan berani, sehingga dapat menjamin kesejahteraan semua orang.
Perang di Ukraina dan Krisis di Tanah Suci
Takhta Suci melihat bahwa situasi Ukraina di lapangan semakin tragis. Pertumpahan darah terus berlangsung, dengan rakyat sebagai korban. Karena itu, Takhta Suci kembali mendesak segera diadakan gencatan senjata. “Lalu diikuti dialog yang tulus dan jujur untuk mencari jalan bagi terciptanya perdamaian,” kata Paus.
Menyinggung situasi di Tanah Suci, Paus Leo XIV mencatat bahwa meskipun gencatan senjata diumumkan pada bulan Oktober, warga sipil terus mengalami “krisis kemanusiaan yang serius.” Ia menegaskan kembali perhatian pada inisiatif yang bertujuan untuk menjamin warga Palestina di Gaza “masa depan perdamaian dan keadilan yang langgeng.”
Prinsip Pasca-PD II Terkikis
Menurut Paus Leo XIV, prinsip yang ditetapkan setelah Perang Dunia II, yang melarang negara-negara menggunakan kekerasan untuk melanggar perbatasan negara lain, telah terkikis. Ia menyatakan bahwa perdamaian tidak lagi dicari sebagai anugerah dan tujuan mulia, tetapi melalui senjata sebagai syarat untuk menegaskan kekuasaan sendiri.
“Sekarang ini, perdamaian dicari melalui senjata sebagai syarat untuk menegaskan kekuasaan sendiri. Hal ini sangat mengancam supremasi hukum, yang merupakan fondasi dari semua kehidupan sipil yang damai,” ujar Paus.
Tantangan Keluarga dan Pembangunan Manusia
Selain menyoroti soal perdamaian dunia, Paus Leo XIV juga menyentuh isu keluarga. Ia mengatakan, sekarang ini keluarga menghadapi dua tantangan “crucial”. Di satu sisi, terdapat kecenderungan yang mengkhawatirkan dalam sistem internasional untuk mengabaikan dan meremehkan peran sosial fundamentalnya.
Di sisi lain, Paus menyoroti kenyataan tentang keluarga-keluarga yang rapuh, hancur, dan menderita, yang dilanda kesulitan internal dan fenomena yang mengganggu, termasuk kekerasan dalam rumah tangga.
Paus Leo XIV mendesak kerja sama melawan polarisasi dan menyoroti perlunya pembangunan manusia integral, perdamaian, dan keadilan. Ia mendesak para pemimpin untuk melayani kepentingan bersama, dengan fokus pada keadilan, kebenaran, dan kebebasan.









