Indramayu, wartajayavision.com -Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Indramayu mulai mempercepat pengembangan sektor industri, energi, dan infrastruktur guna memperkuat posisi daerah dalam persaingan investasi di kawasan Rebana. Senin (11/5/2026).

Di tengah dominasi sejumlah wilayah yang lebih dahulu berkembang, Indramayu berupaya memanfaatkan kekuatan sektor energi dan pertanian sebagai modal utama menarik investor.

Bupati Indramayu Lucky Hakim mengatakan, daerahnya memiliki dua keunggulan strategis yang menjadi fondasi pembangunan Rebana, yakni keberadaan Kilang Balongan serta kawasan pertanian yang luas dan produktif.

Menurutnya, kedua sektor tersebut merupakan penopang utama untuk memperkuat posisi Indramayu dalam peta industri Jawa Barat bagian utara.

“Indramayu tidak hanya berbicara tentang industri manufaktur, tetapi juga energi dan ketahanan pangan. Ini yang sedang kami dorong agar dapat saling menopang,” ujar Lucky.

Kawasan Rebana sendiri merupakan wilayah pengembangan ekonomi baru di Jawa Barat yang mencakup tujuh daerah, termasuk Indramayu.

Pemerintah pusat bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat menempatkan kawasan ini sebagai pusat pertumbuhan industri baru di luar kawasan metropolitan Bandung dan Bekasi–Karawang.

Untuk mendukung arah pembangunan tersebut, Pemkab Indramayu telah menetapkan Kawasan Peruntukan Industri (KPI) seluas 14.110 hektare melalui Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2024 tentang RTRW 2024–2044.

Dari total luasan itu, sekitar 3.340 hektare telah dimanfaatkan untuk kegiatan industri, sementara sisanya masih tersedia untuk pengembangan investasi baru. Pemerintah daerah menilai ketersediaan lahan menjadi salah satu faktor penting dalam persaingan antardaerah di kawasan Rebana.

Sejumlah wilayah seperti Subang dan Majalengka lebih dahulu berkembang karena ditopang akses jalan tol serta proyek strategis nasional.

Di sisi lain, Indramayu masih menghadapi tantangan konektivitas. Karena itu, pembangunan Jalan Tol Indramayu–Kertajati atau Indrajati mulai didorong sebagai proyek prioritas.

Jalan tol tersebut diharapkan mampu mempercepat akses menuju Bandara Internasional Kertajati sekaligus menghubungkan kawasan industri Indramayu dengan jalur logistik nasional.

Selama ini, keterbatasan akses menuju ruas Tol Cipali dinilai menjadi hambatan distribusi barang dan mobilitas tenaga kerja dari Indramayu menuju pusat-pusat industri lain di kawasan Rebana.

Selain mengandalkan pembangunan infrastruktur, Pemkab Indramayu juga menempatkan sektor energi sebagai daya tarik utama investasi.

Keberadaan Kilang Balongan dipandang memiliki nilai strategis karena tidak hanya menjadi pemasok energi nasional, tetapi juga berpotensi berkembang sebagai pusat industri petrokimia dan hilirisasi energi.

Beberapa kawasan industri pun mulai diarahkan sesuai karakter wilayah masing-masing. Kawasan Losarang diproyeksikan untuk pengembangan industri umum, Balongan untuk sektor energi dan petrokimia, sedangkan Krangkeng diarahkan menjadi sentra industri alas kaki.

Meski demikian, pemerintah daerah menegaskan bahwa ekspansi industri tidak akan sepenuhnya menggeser sektor pertanian yang selama ini menjadi basis ekonomi masyarakat.

Sementara lahan sawah yang masuk kategori Lahan Sawah Dilindungi (LSD) dan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) dipastikan tetap dipertahankan.

Lucky menilai, menjaga keseimbangan antara industrialisasi dan ketahanan pangan akan menjadi tantangan utama pembangunan Indramayu ke depan. Menurutnya, daerah yang terlalu agresif membuka kawasan industri tanpa perlindungan lahan pangan berisiko menghadapi persoalan sosial dan ancaman terhadap ketahanan pangan dalam jangka panjang.

“Pertumbuhan industri harus berjalan beriringan dengan perlindungan pertanian,” ujar Lucky.

Penulis: Prans

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *