Indramayu, wartajayavision.com – Sejumlah 207 warga Desa Eretan Wetan dan Kulon Kecamatan Kandanghaur Kabupaten Indramayu, siap untuk direlokasi hal ini terungkap saat Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (Kang Dedi) bertandang ke Indramayu, sengaja menemui warga masyarakat yang terimbas banjir rob di halaman Kantor Kecamatan Kandanghaur, Kamis (18/12/2025).
Kedatangan Gubernur Dedi Mulyadi alias KDM disambut Bupati Indramayu Luky Hakim, SKPD, Muspika Kandanghaur, dan antusias warga masyarakat Kandanghaur berdatangan, sedari pagi hari rela untuk menunggu, walaupun berdesakan untuk mendekat kepada Kang Dedi Mulyadi / Bapak Aing hanya bersalaman serta berswafoto.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyiapkan bantuan Rp 10 juta per orang untuk relokasi sementara warga yang tinggal di bantaran sungai Desa Eretan Wetan, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu. Relokasi dilakukan untuk mendukung pembangunan tanggul sungai dan penanganan banjir rob.
Dedi mengatakan, tanah tanggul sungai yang selama ini ditempati warga akan digunakan untuk normalisasi sungai oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Karena itu, warga harus pindah lebih dulu.

“Ini sungai sebentar lagi akan dinormalisasi oleh BBWS. Sekarang warganya dikasih uang untuk pindah dulu, nilainya Rp 10 juta,” kata Dedi di Kantor Kecamatan Kandanghaur.
Menurut Dedi, wilayah Eretan sudah puluhan tahun dilanda banjir rob. Kondisinya kini semakin parah karena air tidak hanya datang dari laut, tetapi juga dari luapan sungai.
Pemerintah pusat pun telah menganggarkan pembangunan tembok laut dan tanggul sungai untuk menyelamatkan kawasan tersebut. Namun, proyek itu terkendala karena masih ada rumah warga yang berdiri di bantaran sungai.
“Kalau mau bangun tanggul, bantaran sungainya harus kosong,” ujarnya.
Dedi menyebutkan, bantuan Rp 10 juta itu bersifat relokasi sementara dan diperuntukkan untuk kebutuhan pindah, seperti biaya sewa rumah. Total ada 207 warga yang akan menerima bantuan tersebut.
Ke depan, Dedi meminta Bupati Indramayu segera menyiapkan lahan untuk pembangunan kampung nelayan sebagai tempat tinggal permanen bagi warga yang direlokasi. Pemprov Jawa Barat juga akan ikut membantu pembangunan rumah.
“Biar sungainya mengalir, rakyatnya tidak bikin watir. Watir itu menyedihkan. Nanti kita bangun kampung nelayan yang bersih,” ucapnya.

Dedi juga mengingatkan warga agar tidak menggunakan bantuan tersebut untuk keperluan lain di luar relokasi.
“Ingat uang ini buat pindah. Yang penting sekarang nggak kebanjiran. Kalau bisa numpang dulu di rumah saudara, uangnya bisa disimpan untuk persiapan bangun rumah,” tutupnya.









