Polusi Udara di Kabupaten Jombang Terancam oleh Mikroplastik
Polusi udara di Kabupaten Jombang kini menghadapi ancaman serius yang tidak terlihat oleh mata telanjang, yaitu mikroplastik. Studi yang dilakukan oleh Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) menemukan bahwa serpihan plastik halus telah mencemari udara di sejumlah titik baru di wilayah tersebut.
Salah satu lokasi dengan tingkat kontaminasi tertinggi adalah persimpangan jalan di Desa Sengon, Kecamatan Jombang, tepatnya di Jalan Kapten Pierre Tendean. Dalam satu jam pemantauan, ditemukan 58 partikel mikroplastik. Partikel tersebut terdiri dari 11 fiber, 6 film, dan 41 fragmen. Di Desa Sengon juga teridentifikasi 4 partikel mikroplastik jenis film atau filamen.
Selain itu, udara di Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang juga menunjukkan keberadaan partikel plastik mikroskopis. Di sana ditemukan 16 partikel mikroplastik yang terdiri atas 13 fiber, 2 film, dan 1 fragmen. Temuan ini memperluas peta pencemaran yang sebelumnya telah mencatat area di sekitar Lapas dan area sekitar Polres Jombang yang masuk di wilayah Jalan KH Wahid Hasyim, serta Desa Jatirejo, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang.
Aktivitas Manusia sebagai Sumber Utama
Para peneliti mengaitkan temuan ini erat dengan aktivitas manusia sehari-hari. Dominasi partikel serat (fiber), lapisan tipis (film), dan pecahan (fragmen) plastik mengarah pada beberapa sumber. Menurut Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium ECOTON, hasil pemantauan menunjukkan korelasi kuat antara pencemaran mikroplastik udara dengan praktik pembakaran sampah domestik serta tumpukan sampah yang tidak terkelola.
Ia menambahkan, kawasan dengan lalu lintas padat cenderung memiliki fragmen plastik lebih tinggi, yang diduga berasal dari gesekan ban kendaraan, debu jalanan, serta kemasan plastik sekali pakai.
Ancaman Serius bagi Kesehatan Manusia
Paparan partikel plastik di udara ini bukan tanpa risiko. Rafika menjelaskan bahwa plastik mengandung ribuan bahan kimia, dengan sebagian bersifat berbahaya bagi tubuh. Partikel mikro ini dapat terhirup, tertelan, atau bahkan terserap melalui kulit.
Akumulasi dalam jangka panjang berpotensi memicu peradangan, mengacaukan sistem hormon, dan meningkatkan risiko kerusakan sel serta penyakit serius. Hal ini menjadi peringatan serius bagi masyarakat setempat.
Lemahnya Pengelolaan Sampah Dituding sebagai Akar Masalah
Menurut Amiruddin Muttaqin, Peneliti Senior ECOTON, selain faktor manusia, lemahnya pengelolaan sampah juga menjadi salah satu faktor yang memperburuk situasi. Ia menyoroti sistem pengelolaan limbah rumah tangga yang belum optimal sebagai akar persoalan.
“Selama sampah, terutama plastik, tidak dikelola dengan benar dari sumbernya, aliran kontaminasi mikroplastik ke lingkungan, termasuk udara, akan terus berlangsung,” ujarnya.
Desakan untuk Tindakan Nyata
Merespons temuan ini, Prigi Arisandi, Pendiri ECOTON, menekankan bahwa data tersebut harus segera dijawab dengan langkah konkret oleh pemangku kebijakan. Lembaganya pun telah menyampaikan sejumlah rekomendasi kepada Pemerintah Kabupaten Jombang.
Rekomendasi tersebut mencakup perbaikan sistem pengelolaan sampah domestik secara ketat, kampanye pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga dan sekolah. Selain itu, rekomendasi kami juga menyasar kepada penegakan aturan terhadap pembakaran sampah plastik, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, serta integrasi isu mikroplastik ke dalam kebijakan pengendalian polusi udara dan kesehatan masyarakat.








