Kekalahan Memalukan Manchester City di Liga Champions

Manchester City mengalami kekalahan yang sangat memalukan dalam sejarah keikutsertaannya di Liga Champions. Mereka kalah 1-3 dari klub kecil Norwegia, Bodo/Glimt, dalam laga yang berlangsung di Aspmyra Stadium, Bodo, sebuah kota nelayan kecil dengan populasi sekitar 55 ribu jiwa yang terletak lebih dari seribu kilometer di utara Oslo.

Kekalahan ini menjadi momen bersejarah bagi Bodo/Glimt karena merupakan kemenangan pertama mereka sepanjang sejarah partisipasi di Liga Champions. Selain itu, hasil ini juga menjadi salah satu pencapaian terbesar klub tersebut di level Eropa.

Bodo/Glimt tampil sangat agresif sejak menit awal dan langsung mendapatkan hasil cepat melalui striker mereka, Kasper Hogh. Pemain asal Denmark itu mencetak dua gol beruntun pada menit ke-22 dan 24 setelah memanfaatkan kesalahan lini belakang Manchester City.

Pada gol pertama, Manchester City gagal mengantisipasi serangan balik cepat yang diakhiri sundulan Hogh ke gawang Gianluigi Donnarumma. Kurang dari dua menit berselang, kesalahan serupa kembali terjadi dan Hogh dengan mudah mencetak gol keduanya dari jarak dekat.

Meski mendominasi penguasaan bola, Manchester City kesulitan menciptakan peluang bersih. Beberapa situasi bola mati gagal dimaksimalkan. Di sisi lain, kiper Bodo/Glimt Nikita Haikin relatif jarang mendapat ancaman serius.

Pada menit ke-58, Jens Hauge membuat stadion berkapasitas 8 ribu penonton itu bergemuruh usai melepaskan tembakan melengkung dari luar kotak penalti yang bersarang di sudut atas gawang Manchester City dan mengubah skor menjadi 3-0.

Rayan Cherki kemudian memperkecil ketertinggalan pada menit ke-60 lewat tembakan rendah yang sempat membentur pemain lawan sebelum masuk ke gawang. Namun, keinginan Manchester City untuk bangkit langsung pupus ketika gelandang andalan mereka Rodri harus menerima kartu merah setelah menarik Ole Didrik Blomberg.

Pemain yang meraih Ballon d’Or 2024 itu pun diusir keluar lapangan dan membuat City harus bermain dengan 10 orang. Kartu merah itu membuat Bodo/Glimt semakin percaya diri dan nyaris menambah gol melalui Hauge yang membentur mistar gawang, serta Hogh yang sempat mencetak gol ketiga tetapi dianulir karena offside.

Manchester City sendiri mencoba menekan di sisa laga. Mereka sempat mengajukan klaim penalti setelah Cherki terjatuh di kotak terlarang, tetapi wasit menolak protes itu.

Manchester City sebenarnya tampil pincang dengan absennya 11 pemain senior akibat cedera, sakit, skorsing, dan masalah kelayakan bermain. Meskipun demikian, alasan itu tidak cukup menutupi fakta bahwa mereka kalah secara permainan, terutama saat menghadapi transisi cepat Bodo/Glimt.

Erling Haaland yang pulang ke kampung halamannya di Norwegia juga gagal mencetak gol dan dibuat tidak berkutik oleh pertahanan tuan rumah. Kekalahan ini menambah penderitaan City setelah sebelumnya tumbang dalam derby melawan Manchester United di Premier League.

Hasil ini juga membuat posisi Manchester City di fase liga Liga Champions semakin tertekan jelang laga krusial melawan Galatasaray pada Kamis (29/1). Pep Guardiola menegaskan bahwa kekalahan tersebut bukan karena dirinya meremehkan Bodo/Glimt. Pelatih asal Spanyol itu mengaku sejak awal sudah memahami kualitas lawan yang dihadapi.

“Saya tahu seberapa bagus tim mereka. Saya tidak meremehkan Bodo/Glimt. Musim lalu mereka berhasil lolos ke semifinal Liga Europa dan itu masih sangat saya ingat,” ujar Guardiola dikutip dari akun X resmi Manchester City.

Guardiola juga mengungkapkan bahwa kondisi tim yang tidak ideal turut memengaruhi jalannya pertandingan. Absennya sejumlah pemain penting membuat Manchester City kesulitan, terlebih setelah harus bermain dengan 10 orang akibat kartu merah Rodri di babak kedua.

“Kami kehilangan beberapa pemain penting karena cedera, lalu harus bermain 10 melawan 11,” lanjut Guardiola.

Terkait laga-laga berikutnya, Guardiola menegaskan timnya wajib segera melakukan perubahan agar tidak kembali terpeleset, terutama jelang duel penting di kompetisi Liga Inggris dan Eropa.

“Kami harus mengubah dinamika permainan untuk pertandingan berikutnya melawan Wolves dan Galatasaray,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *