Wartajayavision.com, Jakarta – Hubungan bilateral antar negara merupakan proses diplomasi yang harus terus dilakukan oleh setiap perwakilan bangsa. Terlebih bagi lembaga negara seperti Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), hubungan ini menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan dan kerja sama internasional.
Untuk itu, anggota Komisi X DPR RI Puti Guntur Soekarno Putri melakukan kunjungan kerja ke Kedutaan Besar Jepang di Jakarta. Kunjungan ini juga dalam rangka menerima penghargaan dari Menteri Luar Negeri Jepang sebagai apresiasi atas prestasi ketika memimpin Ketua Grup Kerjasama Bilateral DPR dengan parlemen Jepang.
Puti menyampaikan bahwa hubungannya dengan Jepang telah terjalin sejak tahun 2015. Saat itu, Kokushikan University sangat ingin mengenal nilai-nilai yang dimiliki Bung Karno. Singkat cerita, pembicaraan terus berlanjut hingga akhirnya ia menginisiasi pembentukan Soekarno Research Centre di Jepang.
Pada kesempatan tersebut, Puti diberikan kesempatan untuk memberikan ceramah dalam rangka menggaungkan pemikiran Ir. Soekarno dengan judul “Pancasila Bintang Penuntun” dan “Pancasila Menuju Tata Dunia Baru”.
“Pemikiran Presiden pertama Indonesia, Bung Karno, tentang kekuatan Pancasila sebagai alternatif solusi untuk dunia bahwa kemajuan global harus berakar pada nilai kemanusiaan, keadilan, dan kebersamaan,” ujar Puti.
Ia menambahkan bahwa implementasi Pancasila harus sesuai perkembangan zaman agar menjadi arus menuju tata dunia baru. Ini ia angkat untuk menjawab pertanyaan bagaimana Indonesia yang heterogen bisa bersatu dan berkontribusi bagi perdamaian global. Jawabannya ada di Pancasila.
Sejarah telah mencatat bahwa pengalaman ini membuka ruang dialog yang sangat berharga bagi Indonesia-Jepang. Tidak hanya berbicara tentang teori sebagai pandangan, tetapi tentang nilai hidup, bagaimana kita dapat menyumbangkan kebaikan, meskipun kecil tetapi bisa membangun dunia yang lebih adil, seimbang, dan bermakna.
“Dalam tataran praksis, saya kira masyarakat Jepang, langsung atau tidak, telah menjadikan nilai-nilai Pancasila menjadi filosofi dan standar moral masyarakat Jepang terlihat dari rasa kebersamaan, disiplin sosial, penghormatan terhadap harmoni, serta tanggung jawab kolektif. Dan saya lebih hormat lagi sebab nilai-nilai luhur itu tidak diajarkan secara abstrak, melainkan nyata dalam praktek hidup keseharian masyarakatnya,” ujarnya.
Menurut Puti, gotong royong sebagai salah satu nilai Pancasila bukan konsep statis, bukan sekedar tindakan, tetapi sebuah prinsip yang menggerakkan, mengorganisir dan memberi arah terhadap kehidupan bersama. Gotong royong hakikatnya adalah pandangan hidup bangsa yang mencerminkan bahwa Indonesia dibangun atas asas “semua untuk semua”, bukan “yang kuat untuk yang kuat”.
“Oleh sebab itu, komitmen terhadap nilai kerja sama masyarakat Indonesia dan Jepang juga saya jalankan melalui peran saya sebagai Ketua Grup Kerja Sama Bilateral (GKSB) DPR RI periode 2019-2024, khususnya dalam hubungan dengan Parlemen Jepang. Melalui forum ini, kami berupaya memperkuat hubungan diplomasi Indonesia–Jepang yang bercorak people-to-people diplomacy, diplomasi yang berangkat dari perjumpaan manusia, bukan semata kepentingan negara,” tuturnya.
Nilai lain masyarakat Jepang yang mengagumkan menurut Puti adalah tradisi hidup selaras dengan alam. Gagasan ini sejalan dengan pemikiran panutan Ibu Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDI Perjuangan, yang secara konsisten meng-arus-utamakan pentingnya merawat Ibu Pertiwi (Bumi), menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian alam sebagai tanggung jawab generasi terhadap generasi mendatang.
Dalam konteks itulah, Puti bersama para kolega di Jepang menyampaikan pentingnya transfer of knowledge, khususnya dalam penguatan riset dan kebijakan publik di bidang mitigasi bencana. Indonesia dan Jepang sama-sama negara kepulauan yang memiliki banyak kesamaan geografis antara lain potensi sumber daya kelautan hingga sama-sama berada di jalur bencana (ring of fire).
Pengalaman, teknologi, dan kebijakan Jepang dalam menghadapi bencana serta mengelola sumber daya kelautan merupakan pengetahuan berharga yang dapat disinergikan dengan kearifan lokal dan kapasitas Indonesia.
“Itu semua tak lepas dari pemikiran geopolitik Bung Karno menempatkan kerja sama ekonomi bukan sebagai alat dominasi, melainkan sebagai sarana kesetaraan antar bangsa. Di sinilah saya melihat keunggulan Jepang, berkaitan dengan penguasaan riset dan teknologi, serta industri, tanpa meninggalkan ke-arifan lokal yang dipercaya turun-temurun. Nilai lain masyarakat Jepang yang juga saya kagumi, berkaitan dengan tradisi hidup selaras dengan alam,” terangnya.









