Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) terus menjadi perhatian investor, terutama setelah keputusan pembagian dividen yang dinilai menarik di tengah volatilitas pasar saham. Dalam beberapa tahun terakhir, BCA telah membuktikan komitmennya untuk menyalurkan sebagian besar laba bersihnya sebagai dividen, sehingga memberikan imbal hasil yang menguntungkan bagi pemegang saham.
Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) BCA akan digelar pada Kamis, 12 Maret 2026. Salah satu agenda utama dalam pertemuan ini adalah penetapan penggunaan laba bersih tahun buku 2025, termasuk penentuan besaran dividen yang akan dibagikan kepada pemegang saham. Sebelumnya, BCA telah membagikan dividen interim senilai Rp55 per saham pada tahun buku 2025, meningkat dari Rp50 per saham pada tahun sebelumnya. Total nilai dividen yang diberikan mencapai Rp6,77 triliun, naik sebesar 9,95% dibandingkan tahun 2024.
Pembagian dividen ini dilakukan dengan mempertimbangkan kinerja keuangan BCA yang terus stabil. Laba bersih BCA pada tahun buku 2025 tercatat sebesar Rp57,5 triliun, atau meningkat 4,9% secara tahunan. Angka ini menunjukkan bahwa BCA mampu menjaga pertumbuhan laba meskipun menghadapi berbagai tantangan ekonomi dan industri perbankan.
Selain itu, rasio dividen atau payout ratio BCA juga tetap tinggi, yaitu lebih dari 60% dari laba bersih. Hal ini membuat saham BBCA semakin menarik bagi investor, terutama mereka yang berorientasi pada jangka panjang. Analis Samuel Sekuritas, Prasetya Gunadi dan Brandon Boedhiman menyatakan bahwa potensi dividen yang besar dapat menjadi daya tarik tambahan di tengah kondisi pasar saham yang masih diliputi volatilitas.
Dari sisi fundamental, kinerja BCA sepanjang 2025 dinilai solid. Pertumbuhan laba bersih sejalan dengan ekspektasi analis, dan menunjukkan ketahanan model bisnis BCA di tengah dinamika ekonomi. Peningkatan pendapatan operasional sebelum pencadangan (PPOP) menjadi salah satu faktor utama yang mendukung pertumbuhan laba. Selain itu, disiplin pengelolaan biaya operasional juga membantu menjaga efisiensi dan profitabilitas perusahaan.
Neraca BCA juga menunjukkan kualitas aset yang tetap baik. Rasio kredit bermasalah (NPL) berada di kisaran 1,7%, mencerminkan profil risiko yang terkendali. Di kuartal IV/2025, NPL BCA turun menjadi 1,7% dari 2,1% pada kuartal III/2025. Selain itu, Loan at Risk (LAR) membaik menjadi 4,8%, dan cakupan pencadangan terhadap NPL (NPL coverage) meningkat menjadi 184%.
Kekuatan modal BCA juga menjadi sorotan. Common Equity Tier 1 (CET1) mencapai 29,2%, sedangkan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 30,4%. Kondisi ini memberikan ruang yang memadai bagi perseroan untuk mendukung pertumbuhan bisnis sekaligus menyerap potensi volatilitas makroekonomi hingga tahun 2026.
Beberapa faktor tersebut menjadikan BCA sebagai salah satu bank pilihan investor. Meski demikian, seperti yang tercantum dalam disclaimer, keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Wartajayavision.com tidak bertanggung jawab atas segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.







