Pergerakan Harga Emas di Pasar Spot dan Berjangka
Harga emas di pasar spot mengalami penguatan pada perdagangan hari ini, Rabu (11/3/2026). Berdasarkan data Bloomberg, harga emas di pasar spot terpantau menguat 0,21% atau 10,73 poin ke level US$5.202,71 per troy ounce pada pukul 11.01 WIB.
Di sisi lain, harga emas berjangka kontrak April 2026 di Comex AS melemah 0,6% atau 31,3 poin ke US$5.210 per troy ounce.
Secara teknikal, analis Dupoin Futures Andy Nugraha menyatakan bahwa pergerakan harga emas masih berada dalam tren bullish. Ia menjelaskan bahwa kondisi ini didukung oleh kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average yang mengindikasikan momentum kenaikan masih cukup kuat dalam jangka pendek.
Jika tekanan beli terus berlanjut, harga emas berpotensi melanjutkan kenaikan hingga menguji area resistance di sekitar level US$5.231. Namun, apabila harga gagal mempertahankan momentum kenaikan dan mengalami koreksi, maka level support terdekat yang perlu diperhatikan berada di kisaran US$5.126.
Pada perdagangan sebelumnya, harga emas tercatat naik lebih dari 0,50% dan diperdagangkan di sekitar level $5.187 per troy ounce. Penguatan ini terjadi seiring pelemahan Dolar AS setelah harga minyak dunia melemah tipis.
Faktor Fundamental yang Mempengaruhi Harga Emas
Secara fundamental, harga emas menguat setelah International Energy Agency (IEA) dikabarkan mengusulkan pelepasan cadangan minyak terbesar sepanjang sejarah untuk meredam guncangan pasokan akibat perang di Timur Tengah. Usulan IEA yang pertama kali dilaporkan oleh The Wall Street Journal diperkirakan mencakup pelepasan cadangan minyak melebihi 182 juta barel, melampaui volume yang dilepas setelah perang Rusia-Ukraina pada 2022.
Seiring kabar tersebut, harga minyak mentah memangkas sebagian kenaikan sebelumnya, sementara indeks dolar AS melemah hingga 0,1%. Di sisi lain, perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah memasuki hari ke-12, dengan pasar juga mencerna pesan yang saling bertentangan dari pejabat AS. Gedung Putih menyatakan AS tidak mengawal kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz, bertentangan dengan unggahan media sosial yang kemudian dihapus oleh Menteri Energi Chris Wright.
Aktivitas pelayaran melalui jalur strategis tersebut hampir terhenti, padahal biasanya menjadi rute sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair dunia. Bagi pasar emas, volatilitas ekstrem pada harga energi meningkatkan kekhawatiran inflasi, yang pada gilirannya menekan ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve dan bank sentral lainnya. Suku bunga yang lebih tinggi umumnya menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga.
Dinamika Pasar Logam Mulia
Direktur strategi komoditas BNP Paribas SA David Wilson mengatakan harga emas sempat tertekan oleh penguatan dolar AS dan pelemahan pasar saham AS pada pekan lalu. “Emas sedikit tertekan oleh penguatan dolar AS dan penurunan saham AS, karena sebagian investor menjual emas untuk memenuhi margin call di pasar ekuitas,” ungkap David seperti dilansir Bloomberg.
Pergerakan dolar dan minyak mentah turut memengaruhi dinamika pasar logam mulia. Ketika harga minyak melemah, tekanan terhadap dolar meningkat sehingga memberikan ruang bagi emas untuk bergerak naik. Selain faktor mata uang, data ekonomi Amerika Serikat juga memberikan sentimen yang beragam bagi pasar. Data penjualan rumah yang sudah ada (existing home sales) pada Februari menunjukkan pemulihan setelah sebelumnya mengalami kontraksi sebesar -5,9% pada Januari. Penjualan rumah tercatat meningkat 1,7%, menandakan aktivitas sektor properti mulai membaik. Sementara itu, data ketenagakerjaan dari rata-rata perubahan tenaga kerja ADP selama empat minggu juga menunjukkan perbaikan menjadi 15,5 ribu, naik dari angka sebelumnya sebesar 12,8 ribu. Meskipun data ekonomi cenderung positif, pelemahan dolar tetap memberikan dorongan bagi harga emas.
Faktor Geopolitik dan Persiapan Rilis Data Inflasi
Dupoin Futures mengatakan ketegangan di Timur Tengah masih menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga emas global. Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menyatakan bahwa operasi militer AS di Iran kemungkinan akan segera berakhir, meskipun belum ada jadwal pasti mengenai penghentian serangan tersebut. Pernyataan ini sempat menurunkan harga minyak dan meredakan sebagian kekhawatiran inflasi, yang pada akhirnya turut menopang harga emas.
Namun demikian, situasi geopolitik masih berpotensi berubah dengan cepat. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan bahwa jika serangan dari AS dan Israel terus berlanjut, Iran dapat mempertimbangkan langkah untuk memblokir ekspor minyak regional. Di sisi lain, pemerintah AS juga memberikan peringatan keras bahwa tindakan yang mengganggu aliran minyak melalui Selat Hormuz dapat memicu respons militer lebih lanjut. Ketidakpastian geopolitik seperti ini biasanya meningkatkan minat investor terhadap aset safe haven seperti emas.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga menunggu rilis data inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat untuk bulan Februari. CPI utama diperkirakan naik sebesar 2,4% secara tahunan, sementara CPI inti diproyeksikan meningkat 2,5%. Jika data inflasi tersebut lebih tinggi dari perkiraan pasar, hal ini berpotensi mendorong penguatan Dolar AS dan menekan harga emas dalam jangka pendek.









