Wartajayavision.com,, Surabaya –Warga Surabaya dalam beberapa hari terakhir merasakan penurunan suhu udara yang cukup drastis, terutama pada malam hingga pagi hari. Fenomena ini dikenal sebagai bediding, dan biasanya terjadi saat puncak musim kemarau.
Dilansir dari Wikipedia, Bediding (bahasa Jawa: ꦧꦼꦣꦶꦣꦶꦁ, bedhidhing) adalah istilah khas Jawa untuk menyebut perubahan suhu yang mencolok di awal musim kemarau. Suhu udara menjadi sangat dingin menjelang malam hingga pagi, sementara di siang hari suhu melonjak hingga panas menyengat.
Fenomena ini biasanya berlangsung selama tiga hingga empat bulan, terutama pada pertengahan tahun antara bulan Juni hingga Agustus. Bediding juga dikenal sebagai musim peralihan dari musim hujan ke musim kemarau.
Di Surabaya, suhu minimum tercatat mencapai 22–23 derajat Celsius, jauh lebih rendah dibandingkan suhu normal harian yang biasanya berada di kisaran 30 derajat Celsius. Penurunan suhu ini dirasakan oleh warga di berbagai wilayah kota.
Fenomena ini disebabkan oleh angin muson timur atau monsun Australia yang membawa massa udara dingin dan kering dari selatan menuju wilayah Indonesia, termasuk Surabaya. Selain itu, langit yang cenderung cerah tanpa awan juga memperparah pendinginan udara malam hari.
Satpol PP Surabaya Imbau Warga Siap Hadapi Bediding
Menanggapi kondisi cuaca yang berubah drastis, akun Instagram resmi Call Center 112 mengunggah peringatan kepada warga.
Dalam unggahan tersebut, mereka menulis: “SIAP-SIAP BEDIDING NAK SUROBOYO.”
Unggahan itu juga menjelaskan bahwa fenomena bediding adalah penurunan suhu udara yang mencolok saat musim kemarau.
“Saat ini wilayah Jawa Timur sedang memasuki musim kemarau yang terjadi perubahan cuaca mencolok seperti suhu udara menjadi dingin, dan fenomena tersebut adalah bediding,” tulis Satpol PP Surabaya.
Poster yang dibagikan menampilkan ilustrasi seseorang yang kedinginan dan membungkus diri dengan selimut. Di dalamnya juga terdapat logo BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) dan Command Center 112 sebagai pusat panggilan darurat.
Satpol PP Surabaya juga memberikan lima tips menghadapi bediding agar masyarakat tetap sehat dan nyaman:
- Memakai pakaian yang hangat
- Minum air putih yang cukup
- Mengonsumsi makanan bergizi
- Minum vitamin
- Istirahat yang cukup
Imbauan ini ditujukan agar masyarakat tidak lengah terhadap perubahan suhu yang bisa berdampak pada kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan mereka yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.
Warga Surabaya diimbau untuk menyesuaikan aktivitas dan pakaian dengan kondisi cuaca yang berubah-ubah. Jangan sampai kedinginan karena tidak siap.
Dampak Bediding Terhadap Aktivitas Harian Warga Surabaya
Fenomena bediding menyebabkan perbedaan suhu yang mencolok antara siang dan malam. Saat siang hari, suhu bisa tetap terasa panas, namun begitu malam tiba, udara menjadi sangat sejuk bahkan dingin.
Perubahan suhu ini berdampak pada aktivitas warga. Beberapa warga mengaku lebih memilih beraktivitas di dalam rumah karena udara pagi yang menusuk.
Sementara itu, pengendara motor dan pengguna transportasi umum disarankan mengenakan jaket tebal dan pelindung kepala.
Fenomena ini juga berdampak pada sektor informal. Sejumlah pedagang kaki lima di Surabaya mengaku penjualan minuman hangat seperti wedang jahe dan kopi meningkat selama bediding berlangsung.
Dengan suhu yang terus menurun, warga Surabaya diharapkan tetap waspada dan menjaga kesehatan agar tidak mudah terserang penyakit. Pemerintah Kota Surabaya melalui BPBD dan Satpol PP akan terus memantau kondisi dan memberikan informasi terkini kepada









