Kegelapan malam di Padang kini bukan hanya sekadar suasana yang sunyi, tetapi juga menjadi saksi bisu dari sebuah tragedi besar yang mengguncang hati manusia. Hingga Selasa (2/12), jumlah korban yang telah dikonfirmasi tewas akibat bencana banjir bandang dan longsor di sejumlah kabupaten dan kota di Sumatera Barat mencapai 193 jiwa.

Tim DVI Polda Sumatera Barat terus bekerja tanpa henti untuk memulangkan nama dan wajah kepada keluarga yang kehilangan. Dari total korban tersebut, sebanyak 161 jenazah telah berhasil teridentifikasi. Proses identifikasi ini dilakukan melalui verifikasi primer dan sekunder, sehingga nama-nama tersebut dapat diserahkan kembali kepada keluarga masing-masing.

Namun, di balik angka tersebut, masih ada luka yang tak kunjung tertutup. Sebanyak 32 jenazah masih dalam proses identifikasi. Dari jumlah itu, 25 di antaranya belum bisa dikenali karena data pembanding (antemortem) yang cocok belum tersedia. Hal ini menimbulkan rasa duka yang sangat dalam bagi keluarga yang belum bisa mendapatkan kejelasan tentang nasib orang-orang tercinta mereka.

Yang paling menyentuh adalah fakta bahwa sebagian besar jenazah yang belum teridentifikasi adalah anak-anak. Korban-korban kecil ini kehilangan orang tua atau kerabat dekat yang seharusnya melapor, sehingga data mereka tidak pernah tercatat. Akibatnya, identifikasi mereka terhambat dan keluarga terus menunggu dengan harapan yang semakin tipis.

“Semakin cepat data pembanding masuk, semakin cepat pula identifikasi bisa kami selesaikan,” ujar Kompol Hari Andromeda, Kepala RS Bhayangkara TK III Padang.

Di balik setiap kantong jenazah yang rapi di ruangan dingin Rumah Sakit Bhayangkara Padang, ada keluarga yang sedang berjuang untuk memperoleh kejelasan. Banyak hal kecil seperti lembaran surat kabar, fotokopi KTP, potongan kartu keluarga, atau foto lama bisa menjadi jembatan penting untuk mengembalikan satu nama kecil dari kegelapan.

Polda Sumbar dan RS Bhayangkara Padang membuka posko antemortem, yang mengundang siapa pun yang merasa kehilangan anggota keluarga. Setiap detik sangat berharga dalam situasi ini. Tanpa data yang kuat, jenazah akan terus tertahan dalam “zona abu-abu” karena tidak bisa pulang atau diidentifikasi.

Setiap jenazah adalah manusia, bukan sekadar angka statistik. Setiap nama yang belum teridentifikasi berarti ada keluarga yang masih belum tahu nasib orang yang dicintainya.

Tragedi ini bukan hanya soal lumpur dan reruntuhan, tetapi juga tentang harapan, ingatan, dan penghormatan terakhir. “Semakin cepat data pembanding masuk, semakin cepat identifikasi bisa kami selesaikan,” ucap Kompol Hari Andromeda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *