Warga Tapanuli Tengah Berjuang untuk Mendapatkan Sembako

Sejumlah warga dari Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), harus berjalan kaki sejauh 7 hingga 9 kilometer untuk mengambil bantuan sembako di Desa Parsingkaman, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Taput. Mereka datang dari beberapa dusun yang terletak di Desa Nagatimbul dan harus melakukan perjalanan ini setiap hari karena belum menerima bantuan.

Perjalanan ini memakan waktu sekitar 3 hingga 4 jam, tergantung usia dan kondisi fisik. Bagi para pemuda, perjalanan bisa ditempuh dalam waktu sekitar 3,5 jam, sementara bagi para ibu, prosesnya memakan waktu hingga 4 jam. Jalanan yang mereka lalui menanjak dan menurun, dengan banyak titik longsor yang membuat jalan menjadi licin dan berlumpur. Untuk menjaga keseimbangan, mereka sering menggunakan tongkat kayu.

Di sepanjang jalan, mereka melewati hutan yang penuh dengan tanaman karet hutan atau disebut oleh warga setempat sebagai “hapea”. Banyak dari mereka membawa hanya satu botol air mineral, yang akan digunakan selama perjalanan. Keringat yang mengalir deras dan wajah yang lelah terlihat jelas, terutama ketika mereka melewati jalanan yang naik-turun.

Di Jembatan Aek Raisan, mereka beristirahat sejenak. Anak-anak yang belum sempat sarapan membuka bekal makanan mereka dan melahapnya. Beberapa bahkan makan sambil berjalan karena waktu sangat berharga bagi mereka.

Tidak ada kata berleha-leha. Kaum ibu yang kami temui di jalan meneteskan air mata saat menceritakan bahwa mereka harus meninggalkan anak kembarnya dan membutuhkan susu. “Kalau tak diambil sembakonya, kita akan mati. Walau tidak sebanding, tapi karena keadaan, harus kita lakukan,” ujar salah satu warga.

Setibanya di Desa Parsingkaman, mereka mengambil sembako satu paket per keluarga. Seorang pria bernama Iskaih Siahaan (16) berkisah bahwa sembako di rumahnya sudah menipis. Ia datang dari Desa Nagatimbul dan harus pergi setiap hari ke Desa Parsingkaman. Bekal yang ia dapatkan dari desa tetangga akan dinikmati oleh 9 orang di rumahnya.

“Ini akan kami gunakan di rumah. Ada 9 orang di rumah. Makanya setiap hari mesti ke Desa Parsingkaman,” lanjutnya.

Dari Desa Parsingkaman, beras, minyak goreng, dan garam dibungkus rapi dan dijinjing. Beberapa plastik berisi bekal perjalanan disantap di Jembatan Aek Raisan saat mereka kembali ke tempat asalnya. Mereka menyantap nasi, ikan asin, dan sayur dengan lahap, kadang meminum air dari mata air yang ditemukan di pinggiran jalan.

Yang penting, perut berisi dan tidak mengalami kehausan. Mereka seakan tidak peduli soal sanitasi. Setibanya di kampung masing-masing, sembako yang didapat tidak dikonsumsi pribadi, tetapi untuk kelompok. Penjemput sembako adalah perwakilan masing-masing dusun atau kelompok pengungsi.

Selama belasan hari, hal ini terus berlangsung sambil menunggu akses menuju tempat tinggal mereka bisa terbuka baik dari Kabupaten Taput maupun Tapteng. Dari Kecamatan Adiankoting hingga Kecamatan Sitahuis, puluhan titik longsor belum disentuh alat berat. Akibatnya, mereka harus menyabung nyawa setiap harinya untuk menjemput sembako.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *