WISATAWAN kini beralih dari rencana perjalanan wisata yang padat dan serba cepat ke perjalanan yang lebih santai dan tenang atau yang dikenal dengan istilah slow travel. Perjalanan ini memberikan banyak waktu untuk diri sendiri mengamati, membangun koneksi yang lebih dalam dan benar-benar menikmati destinasi demi destinasi.
Terutama di Asia, yang kaya budaya kuno, lanskap beragam dan pengalaman dengan alam. Kalau berencana slow travel di tahun 2026, beberapa kota di Asia berikut ini bisa menjadi pilihan untuk destinasi berikutnya.
1. Luang Prabang
Luang Prabang adalah kota yang terletak di antara sungai Mekong dan Nam Khan. Perjalanan santai di sini berarti bangun pagi untuk menyaksikan upacara pemberian sedekah harian, menghabiskan sore hari di kafe-kafe tepi sungai, dan bersepeda melalui jalan-jalan tenang yang dinaungi pohon frangipani. Berada di sisi utara Laos, kota bersejarah dan termasuk situs warisan dunia UNESCO,kota ini memiliki 33 kuil berlapis emas.
2. Mechuka
Mechuka, desa yang terletak di Arunachal Pradesh, India, ini sering disebut mini Swiss. Dikelilingi perbukitan, hutan pinus dan sungai yang tenang, desa ini jauh dari hiruk pikuk perkotaan, cocok untuk detoksifikasi digital. Selain itu desa ini menawarkan perpaduan yang memikat antara alam, budaya, dan petualangan spiritual. Dilansir dari Incredible India, dari keajaiban alam di Hanuman Point, menghabiskan sore di tepi Sungai Yargyap Chu, tinggal di rumah suku Memba tradisional, tentu akan memberikan pengalaman yang berbeda. Tidak hanya berinteraksi, tapi juga mempelajari budaya, tradisi hingga makanan lokal seperti momos, thukpa, thenthuk, teh mentega, dan bir millet.
3. Hoi An
Hoi An, kota pelabuhan kuno di Vietnam ini menawarkan suasana berbeda. Situs warisan dunia UNESCO ini dikenal dengan jalan-jalan yang diterangi lampion. Pelancong dapat menyusuri pedesaan yang lebih tenang, desa-desa di tepi sungai, dan pesisir di luar jalan-jalan tersibuknya. Untuk melihat ritme yang berbeda, nikmati suasan pagi hari di di sawah, bersepeda melalui desa-desa nelayan, dan sore hari dihabiskan untuk mempelajari kerajinan tradisional atau masakan Vietnam
4. Semenanjung Noto
Jauh dari hiruk pikuk Tokyo, Semenanjung Noto di pantai barat Jepang menawarkan pengalaman perjalanan yang sangat tradisional dan tenang. Dilansir dari Times of India, terdapat desa-desa pedesaan, desa-desa pertanian berteras, dan desa-desa nelayan yang mempertahankan tradisi budaya yang tidak berubah selama berabad-abad.
Perjalanan santai di Noto berarti berendam di pemandian air panas tepi laut, menikmati masakan lokal yang dibuat dengan bahan-bahan lokal, dan berjalan-jalan di sepanjang garis pantai di mana deru lalu lintas kota yang konstan digantikan oleh suara lembut ombak laut. Gaya hidup “satoyama” di wilayah ini, hidup selaras dengan alam, sangat sesuai dengan para pelancong yang mencari liburan yang tenang.
5. Koh Yao Noi
Terletak di antara Phuket dan Krabi, Koh Yao Noi seperti sisi Thailand yang berbeda. Tanpa suasana pesta, lalu lintas terbatas, dan komunitas Muslim lokal yang kuat, pulau ini mempertahankan keaslian yang telah hilang dari banyak pulau populer di Thailand. Koh Yao Noi adalah pilihan yang baik bagi mereka yang mencari liburan tropis yang tenang yang memprioritaskan ketenangan daripada kenyamanan.
Bayangkan hari-hari diisi dengan menyusuri jalan-jalan panjang di pantai yang sepi, berkayak melalui hutan bakau, dan menghabiskan waktu membaca atau sekadar mengamati waktu pasang surut. Jangan lewatkan menyelami budaya lokal, seperti melukis batik, mendesain syal, sarung, atau kemeja Anda sendiri di Pusat Wanita Lokal di Dermaga Tha Khao, seperti dilansir dari CN Traveller.









