Wartajayavision.com,
JAKARTA – Ir. Sanggam Hutapea, MM, seorang pemerhati dan pelaku pariwisata, menyarankan kepada pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengembangan pariwisata kawasan Danau Toba.
Kawasan Danau Toba yang ditetapkan sebagai salah satu Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) masih belum mampu menarik wisatawan sesuai harapan. Sanggam mengibaratkan kawasan ini seperti “Gadis Pinggitan Butuh Dandan”. Meskipun memiliki kecantikan alami, ia membutuhkan perbaikan agar lebih menarik.
Beberapa pembangunan infrastruktur telah dilakukan, seperti pembangunan tol dan Bandara Silangit. Namun, kunjungan wisatawan tetap stagnan. Hal ini berbanding terbalik dengan julukan yang diberikan oleh mantan Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Rizal Ramli, yaitu “Monaco of Asia” karena kawasan ini dinilai memiliki perpaduan antara sejarah, keindahan alam, dan tempat ikonik.
Sanggam sering berdiskusi dengan Rizal Ramli tentang pengembangan pariwisata Danau Toba. Menurutnya, pentingnya menjaga lingkungan dan pembenahan infrastruktur agar air danau tetap bersih.
Selama 10 tahun terakhir, hanya akses menuju Danau Toba yang diperbaiki. Tidak ada inovasi lain selain Patung Yesus di Sibea. Meskipun menjadi tuan rumah penyelenggaraan Aquabike Jetski World Championship dan F1 Powerboat, kawasan ini belum menunjukkan tren positif dalam meningkatkan kunjungan wisatawan.
Sanggam meyakini masih ada harapan untuk memajukan pariwisata Danau Toba. Ia menyarankan adanya seorang ahli bedah yang mampu memperbaiki kawasan tersebut.
Strategi Wisata Akhir Pekan
Menurut Sanggam, kawasan Danau Toba tidak hanya ramai saat libur lebaran, natal, atau tahun baru. Untuk strategi jangka pendek, kemudahan akses jalan tol ke Parapat bisa dimanfaatkan oleh kepala daerah untuk berpromosi menarik pengunjung berlibur akhir pekan.
Sebagai contoh, wisata akhir pekan di kawasan Puncak Bogor menjadi pilihan bagi masyarakat Jabodetabek. Sanggam menilai kawasan Danau Toba memiliki potensi yang lebih besar karena bukan hanya udara dingin, tetapi juga pesona keindahan alam.
Ia mendorong pemerintah daerah dan dinas pariwisata untuk merangkul para pelaku usaha dari berbagai sektor terkait pariwisata di kawasan tersebut. Dengan komunikasi dan pertemuan intensif, ide-ide kreatif bisa bermunculan dan diterapkan menjadi kebijakan yang terarah.
Dalam jangka pendek, tidak perlu muluk-muluk mendatangkan wisatawan mancanegara. Menjadikan kawasan Danau Toba sebagai tempat liburan akhir pekan saja sudah langkah yang luar biasa.
Rumus Ulang Konsep Pengembangan
Ada beberapa hal yang menjadi alasan pentingnya merumuskan ulang konsep pengembangan wisata Danau Toba. Salah satunya adalah status Bandara Silangit yang kini tidak lagi berstatus bandara internasional setelah dicabut pada 2024.
Indikator pencabutan status ini bisa jadi karena kurangnya minat wisatawan mancanegara yang ingin penerbangan langsung ke kawasan Danau Toba. Bahkan, layanan penerbangan domestik pun banyak yang menutup rute ke bandara tersebut.
Sanggam berharap pembentukan dan perumusan kembali konsep Danau Toba bukan sekadar tulisan di atas kertas, tetapi juga didukung oleh ketegasan dari otoritas dan pihak berwenang dalam menjalankan agenda Revitalisasi Pariwisata.
Pengelolaan kawasan Danau Toba hanya monoton mengandalkan keindahan alamnya saja. Sementara itu, abai dengan kebersihan hingga kualitas air danau dan kerusakan hutan.
Wisata Kuliner Terapung
Pada bagian lain, Sanggam menyarankan dibangunnya lokasi wisata kuliner di kawasan Danau Toba. Akan lebih unik jika ada kapal yang menjadi tempat wisata kuliner terapung.
Wisata kuliner terapung mungkin akan menjadi ciri khas Danau Toba jika dikemas dengan baik. Titik destinasinya bisa dipusatkan di Pantai Bebas Parapat, Pantai Ajibata, Toba, atau beberapa lokasi pantai yang ideal di Danau Toba.
Salah satu strategi penting dalam mengembangkan wisata Danau Toba adalah menentukan produk wisata Danau Toba terlebih dahulu. Bila diputuskan produk wisata Danau Toba adalah keindahan alam, maka dititik-titik mana wisatawan harus dibawa.
Sanggam mengutarakan salah satu contoh kreatif yang bisa menjadi produk unggulan yakni keberadaan tugu-tugu Marga di kawasan Danau Toba. Hal itu sangat menarik untuk dinarasikan. Sebab tidak banyak suku-suku di dunia memiliki budaya membangun tugu lengkap dengan silsilahnya.
Faktor utama keputusan wisatawan memilih destinasi yang dikunjungi bukan soal cepat atau lambatnya menuju lokasi wisata, tetapi apa yang bisa dinikmati dari destinasi wisata yang dikunjunginya itu.
Perlu diingatkan bahwa pembangunan kawasan Danau Toba sebagai wisata kelas dunia harus dilakukan secara terintegrasi, dengan mengkaji aspek alam, pemulihan ekosistem Danau Toba, sumber daya manusia, budaya, sosial, dan potensi investasi yang akan menambah devisa negara dan berujung pada kesejahteraan masyarakat.









