Wartajayavision.com,, Jakarta – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaporkan banjir kembali meluas. Banjir sebelumnya menggenangi 35 Rukun Tetangga (RT) yang berada di Jakarta Barat, Timur, Selatan, dan Utara, kemudian menjadi 46 RT. “Data per pukul 06.00 WIB genangan terjadi di 46 RT,” kata Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Isnawa Adji dikutip Antara, Selasa, 8 Juli 2025.
Adji menjelaskan perincian 46 RT, yaitu Jakarta Barat 10 RT, Jakarta Timur sembilan RT, Jakarta Selatan 25 RT, dan Jakarta Utara dua RT.
Saat banjir beberapa ada beberapa hal yang rentan berisiko. Tak hanya penyakit, risiko lainnya antara lain korsleting listrik.
Genangan Air
Genangan air yang tampak dangkal bisa menutupi lubang saluran, selokan terbuka, atau jalan yang ambles. Sangat penting untuk tidak berjalan atau mengemudi kendaraan di area banjir yang dalam apalagi jika arus terlihat deras.
Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung Yannes Martinus Pasaribu menjelaskan hal yang perlu dihindari agar memperkecill risiko mobil rusak saat banjir. “Hal pertama yang tidak boleh dilakukan adalah menyalakan mesin, karena air yang masuk ke dalam ruang bakar atau sistem kelistrikan dapat menyebabkan kerusakan fatal, seperti water hammer atau korsleting,” katanya, Rabu, 5 Juli 2025.
Yannes menjelaskan, ketika mobil terendam banjir, air dapat masuk ke dalam mesin, sistem kelistrikan, dan komponen elektronik lainnya, yang dapat menyebabkan korsleting atau kerusakan permanen.
Korsleting Listrik
Banjir bisa menyebabkan hubungan arus pendek listrik yang sangat berbahaya. Kabel listrik yang terendam air bisa menjadi sumber sengatan. Begitu juga peralatan elektronik yang masih terhubung ke listrik saat air mulai masuk rumah bisa menyebabkan korsleting. Saat banjir segera matikan listrik dari panel utama jika masih aman dilakukan dan menghindari menyentuh kabel atau alat elektronik yang terkena air.
Laporan Antara, Rabu, 22 Desember 2021, Executive Vice President Komunikasi Korporat PLN Agung Murdifi mengatakan hal pertama yang harus dilakukan saat permukiman terendam banjir dengan mematikan listrik dari meter circuit breaker (MCB) untuk menghindari bahaya tersengat aliran listrik.
Selanjutnya, cabut seluruh peralatan listrik yang masih tersambung dan memindahkan alat elektronik ke tempat yang aman. “Naikkan alat elektronik ke tempat yang lebih tinggi,” kata Agung.
Penyakit
Air banjir pasti tercemar limbah rumah tangga, kotoran manusia dan hewan, bahan kimia berbahaya dari industri atau kendaraan. Paparan terhadap air ini dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti leptospirosis, penyakit yang ditularkan melalui urine tikus, diare, infeksi kulit, dan infeksi saluran pernapasan.
Saat kebanjiran, penting untuk selalu menghindari kontak langsung dengan air banjir, mengenakan pelindung seperti sepatu bot atau sarung tangan. Segera mencuci tangan ketika terpapar benda kotor yang terbawa banjir.
Hewan
Saat banjir, habitat alami hewan terganggu dan dapat berpindah ke area permukiman. Hewan seperti ular dan tikus bisa terbawa arus atau mencari tempat yang lebih tinggi di sekitar rumah warga. Koloni serangga seperti semut api juga bermunculan. Itu sebabnya penting membersihkan rumah secara menyeluruh setelah banjir surut.
Pakar kesehatan Tjandra Yoga Aditama mengingatkan kepada warga yang terdampak banjir untuk mewaspadai penyakit leptospirosis yang ditularkan melalui kotoran dan air kencing tikus. “Pada saat terjadi banjir, tikus-tikus yang tinggal di liang-liang tanah akan ikut keluar menyelamatkan diri. Tikus tersebut akan berkeliaran di sekitar manusia dimana kotoran dan air kencingnya akan bercampur dengan air banjir tersebut,” kata Tjandra dalam laporan Antara, Rabu, 5 Maret 2025.
Yayuk Widiyarti, Balqis Primasari, Sultan Abdurrahman turut berkontribusi dalam penulisan artikel ini









