Harga minyak dunia terus bergerak naik dan turun akibat situasi geopolitik yang memicu ketidakstabilan di pasar energi. Sejumlah pihak mengkhawatirkan lonjakan harga yang disebabkan oleh konflik antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel. Dalam situasi ini, International Energy Agency (IEA) mengusulkan pelepasan cadangan minyak dalam jumlah besar untuk mengurangi tekanan pada harga minyak.
Berdasarkan data dari Bloomberg pada Rabu (11/3/2026), harga minyak jenis Brent pengiriman Mei meningkat sebesar 0,4% menjadi US$88,16 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April juga menguat sebesar 0,7% menjadi US$84,00 per barel. Meskipun demikian, harga Brent sempat melonjak hingga 3,7% sebelum kembali menurun, sedangkan WTI bergerak di sekitar US$84 per barel.
Pelepasan cadangan minyak yang diusulkan IEA diperkirakan akan melebihi jumlah 182 juta barel yang dilepaskan oleh negara anggota IEA pada tahun 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina. Hal ini menunjukkan bahwa situasi saat ini lebih serius dibandingkan sebelumnya.
Kemacetan pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur yang digunakan oleh sekitar seperlima arus perdagangan minyak global, telah memengaruhi produksi minyak dari beberapa produsen besar di Teluk. Hal ini menyebabkan kenaikan harga minyak mentah, gas alam, serta produk turunan seperti diesel. Lalu lintas kapal tanker di jalur tersebut dilaporkan menurun drastis, sementara pelaku pasar terus memantau kemungkinan kembalinya aktivitas perdagangan secara normal.
Proposal Pelepasan Cadangan Hari Ini
Menurut laporan The Wall Street Journal yang mengutip pejabat terkait, negara anggota IEA diperkirakan akan memutuskan proposal pelepasan cadangan darurat tersebut pada Rabu. Kebijakan ini dapat langsung diberlakukan jika tidak ada negara anggota yang mengajukan keberatan, meski protes dari satu negara saja berpotensi menunda rencana tersebut.
Sebelumnya, negara-negara G7 telah meminta IEA menyiapkan skenario pelepasan cadangan minyak darurat. Charu Chanana, Chief Investment Strategist Saxo Markets di Singapura, menilai langkah tersebut dapat menjadi sinyal penting bagi pasar. “Pelepasan cadangan oleh IEA bisa menjadi katup pelepas tekanan sekaligus sinyal peringatan. Langkah ini dapat menambah pasokan sementara dan meredam kepanikan, tetapi juga menunjukkan risiko gangguan pasokan cukup serius hingga memerlukan tindakan darurat,” ujarnya.
Perubahan Pernyataan Pemerintahan Trump
Harga minyak sebelumnya sempat anjlok pada Selasa setelah pasar merespons pernyataan yang berubah-ubah dari pemerintahan Donald Trump terkait perang dan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Menteri Energi AS Chris Wright sempat mengunggah pernyataan bahwa Angkatan Laut AS mengawal kapal tanker minyak melalui selat tersebut, sebelum Gedung Putih menegaskan bahwa operasi tersebut tidak pernah terjadi.
Selain itu, Presiden Trump juga sempat mengunggah sejumlah pesan yang saling bertentangan di media sosial mengenai dugaan ranjau di Selat Hormuz. Konflik yang telah memasuki pekan kedua itu kini melibatkan lebih dari selusin negara dan memicu kekhawatiran terhadap potensi krisis inflasi global. Harga bensin ritel di AS juga melonjak, menambah tekanan ekonomi dan politik terhadap pemerintahan Trump.
Pengurangan Produksi Minyak
Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait secara kolektif memangkas produksi hingga 6,7 juta barel per hari, setara sekitar 6% dari total produksi minyak global. Selain itu, kilang minyak terbesar di Uni Emirat Arab juga menghentikan operasinya setelah terkena serangan drone.
Amin Nasser, CEO Saudi Aramco, memperingatkan bahwa gangguan yang berkepanjangan dapat membawa dampak serius bagi pasar energi global. “Akan ada konsekuensi yang sangat besar bagi pasar minyak dunia jika gangguan ini terus berlanjut, dan dampaknya terhadap ekonomi global bisa semakin drastis,” ujarnya.








