Wartajayavision.com,– Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyampaikan adanya tanda-tanda awal dari Pemerintah Arab Saudi terkait kemungkinan penambahan kuota jamaah haji pada tahun 2026. Namun, Nasaruddin Umar belum menjelaskan secara rinci mengenai hal tersebut.
Berdasarkan data kuota haji tahun 2025, Indonesia mendapatkan alokasi sebanyak 221.000 jamaah. Rencana penambahan kuota tersebut diiringi dengan peningkatan fasilitas yang tersedia di Arab Saudi.
“Kuota tahun depan akan ditentukan pada waktunya, tetapi tanda-tanda awal dari Pemerintah Arab Saudi insya Allah akan tetap menjaga minimum yang ada, namun pihak Arab Saudi berupaya meningkatkan kuota bahkan melebihi yang telah ditetapkan dengan membangun fasilitas yang lebih besar,” ujar Nasaruddin Umar dalam konferensi pers di kantor Kemenag, Jakarta, Senin (14/7).
Ia menjelaskan, langkah pemerintah Arab Saudi dalam meningkatkan kuota juga didukung oleh pembangunan infrastruktur yang besar, termasuk perubahan wilayah penginapan.
“Tujuannya nanti mungkin beberapa tahun ke depan, akan semakin berkurang jumlah kemah, tetapi semakin bertambah banyak apartemen yang dibangun di sana. Dan itu lebih murah sebenarnya, sudah ada studi yang menunjukkan bahwa hal ini lebih efisien dan efektif,” jelasnya.
Ekspansi infrastruktur tersebut, menurut Nasaruddin, tidak hanya berlangsung di Mekkah, tetapi juga meliputi Madinah serta jalur transportasi utama.
“Selanjutnya jalan tersebut kemungkinan akan diperlebar atau mungkin dibangun flyover untuk mengurangi kemacetan, seperti yang terlihat saat ini di Haram yang sudah diperluas. Madinah juga telah diperluas, dengan tanah-tanah di sekitar Masjid Madinah diratakan untuk dibangun hotel-hotel besar bertingkat agar dapat meningkatkan kapasitas jamaah haji setiap tahun,” katanya.
Oleh karena itu, Nasaruddin menekankan bahwa kemungkinan penambahan kuota haji tahun 2026 sangat terbuka. Hal ini karena Pemerintah Arab Saudi juga telah sepakat untuk memanfaatkan Bandara Thaif, selain Jeddah, sebagai tempat kedatangan dan kepulangan jamaah haji dari Indonesia.
“Sehingga memungkinkan peningkatan jumlah jamaah haji pada masa mendatang. Bandara juga akan ditambah, kemudian bandara lama juga dikatakan akan diaktifkan kembali. Selain itu, bahkan ada alternatif bandara lain di sekitar Makkah. Jadi lebih besar kemungkinannya untuk meningkat daripada mengurangi,” kata Nasaruddin.
Namun, Nasaruddin menegaskan bahwa peningkatan kuota harus tetap memperhatikan aspek keamanan dan kenyamanan jamaah.
“Factor lamanya itu karena tadi mencegah agar jangan terlalu padat Mina, jangan terlalu padat Arafah, Muzdalifah, dan jangan menambah kemacetan,” jelasnya.
Selanjutnya, Nasaruddin mengatakan bahwa jika fasilitas dan ruang bagi pergerakan jamaah dapat dikelola dengan baik, tidak ada alasan lagi untuk meningkatkan kuota jamaah haji.
“Tetapi jika tempat tersebut dapat dikelola dengan baik, maka tidak ada alasan untuk membatasi orang dalam menjalankan ibadah haji,” tutupnya.









