INDRAMAYU, WARTAJAYAVISION.COM -Kasus dugaan pelecehan di lingkungan sekolah kembali mencuat, melibatkan seorang guru olahraga di SMK Negeri 1 Krangkeng, Kabupaten Indramayu, berinisial AME, Perilaku tidak pantas ini mencerminkan tren serupa yang sebelumnya juga terjadi di sejumlah sekolah di berbagai daerah, termasuk Jakarta.
Berbagai laporan mengungkap dugaan pelecehan oleh guru terhadap siswa perempuan, mulai dari menyentuh pipi, merangkul, hingga melakukan tindakan yang lebih sensitif. Namun, kasus terbaru di Indramayu ini menyoroti insiden remas pantat yang diduga dilakukan oleh AME terhadap salah satu siswinya.
Kejadian ini berlangsung pada 12 November 2024, sekitar pukul 09.00 WIB, saat sekolah sedang menggelar kegiatan orasi visi misi calon ketua dan wakil ketua OSIS MPK di lapangan. AME diduga menepak pantat seorang siswi kelas XI, sebut saja Dahlia, saat menggiring para siswa ke tempat acara. Aksi ini disaksikan langsung oleh seorang siswa kelas XII, yang kita sebut Johni, yang kemudian melayangkan protes keras terhadap AME.
Kasus ini sempat dibahas dalam Sidang Etik Guru, namun ironisnya, penyelesaiannya hanya berupa permintaan maaf dari AME, tanpa tindakan lebih lanjut.

Dahlia mengaku insiden tersebut bukan yang pertama. Menurutnya, AME sering menunjukkan perilaku serupa terhadap siswa perempuan, seperti menggenggam tangan terlalu lama saat bersalaman, memegang hidung, merangkul bahu, hingga mencolek dengan pulpen.
“Kami merasa tidak nyaman dengan kebiasaan beliau, tapi beliau menganggap itu hal biasa,” ungkap Dahlia.
Selain dugaan pelecehan, kegiatan ekstrakurikuler renang yang diwajibkan untuk siswa kelas X dan XI di bawah pengawasan AME juga menuai sorotan. Biaya sebesar Rp65.000 per siswa untuk setiap semester dianggap lebih mahal dibandingkan dengan sekolah lain di wilayah Indramayu.
Beberapa siswa juga mengungkapkan ketidaknyamanan mereka selama kegiatan renang, meski belum ada bukti konkret yang mengarah pada tindakan tidak pantas selama kegiatan tersebut.
“Secara langsung, memang belum ada kejadian aneh yang terlihat. Tapi lirikan mata beliau saja sudah cukup bikin kami risih,” ujar salah satu siswa yang enggan disebutkan namanya.

Humas SMK Negeri 1 Krangkeng, saat dikonfirmasi, mengakui ada kejadian yang dipertanyakan oleh awak media. Namun, katanya, permasalahan tersebut sudah diselesaikan secara internal sekolah. Mengenai sanksi terhadap oknum guru yang melakukan tindakan yang tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang pendidik, Humas SMK Negeri 1 Krangkeng menyebut bahwa hal tersebut masih perlu dibicarakan lebih lanjut dengan kepala sekolah. “Kejadian itu memang ada, namun sudah diselesaikan secara internal sekolah,” ujar Humas SMK Negeri 1 Krangkeng.
Kasus ini menimbulkan keprihatinan dan menjadi peringatan bagi pihak sekolah untuk segera mengambil langkah tegas dalam menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi para siswa. Tindakan cepat dan tepat sangat diperlukan agar kejadian serupa tidak lagi terulang.









