Wartajayavision.com,Tak semua orang memahami bahwa tekanan emosional dan fisik juga dialami oleh para pekerja rumah tangga. Di balik rutinitas merawat anak, menjaga lansia, hingga mengurus kebutuhan rumah tangga, tersimpan tantangan mental yang tak ringan.
Kesadaran akan pentingnya kesehatan jiwa itulah yang mendorong PT Srikandi Mandiri Duta Mulia memberikan pembekalan khusus bagi para pekerjanya. Bertempat di Sleman, kegiatan ini dikemas dalam sesi edukasi bersama dokter spesialis kejiwaan dan motivasi kerja, sekaligus sebagai bagian dari peringatan Hari Pekerja Rumah Tangga (PRT) Internasional dan ulang tahun ke-22 perusahaan.
Owner PT Srikandi Mandiri Duta Mulia, Dra Tutik Suprapti, mengatakan bahwa pembekalan ini penting mengingat para pekerja sering menghadapi tekanan emosional dan fisik dalam menjalani tugas sehari-hari.
“Kami menghadirkan dr. Mahar Agusno, Sp.KJ, seorang dokter spesialis kejiwaan yang pernah menjadi dosen di UGM dan kini praktik di RSUP Dr. Sardjito serta RS Bethesda. Tujuan kami adalah membekali pekerja agar lebih siap menghadapi tantangan, baik dari sisi pekerjaan maupun dinamika hubungan dengan pengguna jasa,” ujarnya di sela kegiatan yang berlangsung di Sleman, Selasa (8/7/2025).
Menurut Tutik, pekerja rumah tangga, termasuk babysitter dan perawat lansia, sering kali dihadapkan pada situasi yang menuntut kesiapan mental tinggi, seperti menangani pasien sakit atau anak-anak dengan kondisi khusus. Selain itu, tantangan psikologis karena harus meninggalkan keluarga juga menjadi faktor tekanan tersendiri.
“Dengan pembekalan ini, kami berharap para pekerja memiliki pemahaman yang lebih baik tentang kesehatan mental, serta dapat bekerja secara empatik dan profesional,” kata Tutik.
Sesi motivasi dalam acara ini diisi oleh Drs. Eko Hadirmoko, M.PE., yang mendorong peserta untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan bangga terhadap profesi PRT. Tema yang diangkat adalah “I Do the Best, You Do the Best”, sejalan dengan semangat meningkatkan profesionalisme dan penghargaan terhadap pekerja rumah tangga.
“Kami ingin pekerja tidak merasa minder. Profesi ini sejajar dengan profesi lainnya jika dijalani dengan sungguh-sungguh. Banyak dari mereka yang bahkan menjadi penopang utama ekonomi keluarga,” tambah Tutik.
Sejak berdiri lebih dari 20 tahun lalu, PT Srikandi telah menyalurkan ribuan tenaga kerja ke berbagai wilayah di Indonesia. Rata-rata penyaluran per bulan berkisar antara 130 hingga 150 orang, dan meningkat hingga 250 orang menjelang Hari Raya Idul Fitri. Sejak pandemi COVID-19, jumlah penyaluran mencapai sekitar 1.500 orang per tahun, menurun dari angka sebelum pandemi yang sempat mencapai lebih dari 2.300 orang per tahun.
Tutik menegaskan bahwa pihaknya hanya menyalurkan pekerja untuk wilayah dalam negeri. Meski demikian, peluang mendapatkan penghasilan yang layak tetap terbuka lebar.
“Kami tidak menyalurkan pekerja ke luar negeri. Namun jika profesional, pekerja rumah tangga di Indonesia pun bisa mendapatkan penghasilan yang mencukupi,” jelasnya.
Mayoritas tenaga kerja berasal dari wilayah DIY, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Namun terdapat pula pekerja dari luar Pulau Jawa yang mendaftar melalui PT Srikandi. Menurut Tutik, perusahaan menempatkan perlindungan pekerja sebagai prioritas utama.
“Kami pastikan identitas pengguna jasa jelas sebelum penempatan. Kami juga menjalin komunikasi rutin dengan para pekerja, dan meminta mereka menghafal nomor kontak perusahaan agar dapat segera menghubungi kami jika terjadi hal yang tidak diinginkan,” katanya.
Perusahaan hanya menyalurkan tenaga kerja yang telah melalui pelatihan intensif. Untuk posisi seperti babysitter dan perawat lansia, sertifikasi menjadi syarat mutlak. Pelatihan dilakukan secara penuh selama satu hari dengan kombinasi teori dan praktik, dibimbing oleh instruktur profesional sesuai bidang, seperti bidan dan perawat berpengalaman.
Dalam kesempatan yang sama, dr. Mahar Agusno, Sp.KJ., dokter spesialis kejiwaan menekankan bahwa kesehatan jiwa bukan hanya untuk orang yang mengalami gangguan mental berat, tetapi juga untuk menjaga agar orang yang sehat tetap sehat secara psikologis.
“Jangan salah paham, dokter jiwa itu bukan hanya menangani orang dengan gangguan jiwa berat, tetapi juga membantu orang sehat jiwa agar tetap sehat. Karena jika tekanan hidup menumpuk, orang yang semula sehat pun bisa jatuh sakit,” ujar dr. Mahar.
Ia menegaskan bahwa edukasi promotif seperti ini penting dilakukan sebagai upaya pencegahan terhadap potensi gangguan jiwa.
“Upaya menjaga kesehatan jiwa bukan hanya untuk mereka yang sudah sakit. Kegiatan seperti ini adalah bentuk promosi dan pencegahan, agar individu tetap kuat menghadapi tantangan hidup,” katanya.
dr. Mahar menjelaskan empat pilar utama seseorang dikatakan sehat jiwa: mampu memahami potensi diri, mampu menyelesaikan masalah hidup sehari-hari, mampu bekerja secara produktif, dan mampu berkontribusi bagi lingkungan sosialnya.
“Misalnya, seseorang yang sabar cocok merawat lansia. Atau yang telaten bisa menjadi babysitter. Memahami potensi diri ini penting. Selain itu, sehat jiwa berarti mampu menyelesaikan masalah hidup tanpa mudah frustasi, serta tetap produktif dan bermanfaat bagi sekitarnya,” tuturnya.
Ia juga menyinggung bahwa tekanan kerja dapat menjadi pemicu gangguan jiwa, terutama jika tidak diimbangi dengan pemahaman dan keterampilan mengelola stres.
“Banyak pekerja yang tiba-tiba mengalami gangguan jiwa, padahal pemicunya stres kerja. Ada juga yang mengalami psikosomatik, yakni gangguan fisik yang dipicu tekanan psikologis. Ini penting untuk diantisipasi,” tandas dr. Mahar.









