Penjelasan PT Agincourt Resources Mengenai Bencana Banjir Bandang di Tapanuli Selatan
PT Agincourt Resources (PTAR) akhirnya memberikan pernyataan resmi terkait isu yang beredar mengenai hubungan antara operasional Tambang Emas Martabe dengan bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara. Menurut manajemen PTAR, titik utama dan awal dari bencana tersebut berada di Desa Garoga, yang terletak di Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Garoga. Dari sana, banjir menyebar ke beberapa desa sekitar seperti Huta Godang, Batu Horing, Sitinjak, dan Aek Ngadol.
Bencana ini disebabkan oleh ketidakmampuan alur Sungai Garoga dalam menampung laju aliran air yang sangat tinggi. Hal ini dipicu oleh penyumbatan masif dari material kayu gelondongan yang terdapat di Jembatan Garoga I dan Jembatan Anggoli (Garoga II). Menurut penemuan PTAR, kesimpulan bahwa operasional tambang langsung berkaitan dengan kejadian banjir bandang di Desa Garoga dinilai prematur dan tidak tepat.
Efek penyumbatan ini mencapai titik kritis pada sekitar pukul 10 pagi tanggal 25 November 2025. Akibatnya, dua anak sungai Garoga bergabung menjadi satu aliran baru yang langsung menerjang Desa Garoga. Manajemen PTAR menjelaskan bahwa perusahaan beroperasi di sub DAS Aek Pahu, yang secara hidrologis terpisah dari DAS Garoga. Meskipun kedua sungai bertemu, titik pertemuan tersebut berada jauh di hilir Desa Garoga dan terus mengalir ke pantai barat Sumatra. Oleh karena itu, aktivitas PTAR di DAS Aek Pahu tidak memiliki keterkaitan langsung dengan bencana yang terjadi di Garoga.
Lebih lanjut, perusahaan menyatakan bahwa meskipun beberapa peristiwa longsoran terpantau di sub DAS Aek Pahu, tidak ada fenomena banjir bandang di sepanjang aliran sungai tersebut. Perbedaan ini disebabkan oleh tidak ditemukannya aliran lumpur dan batang kayu yang intensif di Sungai Aek Pahu, yang bisa menjadi pemicu sumbatan masif.
Selama operasionalnya, PTAR juga menegaskan bahwa perusahaan terus mendukung upaya perlindungan lingkungan. Ini termasuk konservasi air, udara, tanah, serta konservasi keanekaragaman hayati melalui kolaborasi dengan institusi nasional maupun global.
Sebelumnya, bencana banjir dan tanah longsor di Tapanuli Selatan telah meluas hingga mencakup 11 kecamatan. Bencana ini menyebabkan korban jiwa, kerusakan permukiman, serta ribuan warga harus mengungsi. Kejadian ini terjadi setelah hujan deras dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut sejak Senin (24/11/2025) pagi waktu setempat.
Menurut laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tapanuli Selatan, bencana mulai terjadi sekitar pukul 07.00 WIB. Beberapa titik di kecamatan tersebut mengalami banjir, sementara kawasan lain tertimbun material longsor yang menyebabkan akses jalan warga terganggu.







