Wartajayavision.com,

JAKARTA — Kualitas investasi di Indonesia terus menurun, khususnya dari sisi penyerapan tenaga kerja. Pada tahun 2025, pertumbuhan investasi langsung tidak sebanding dengan peningkatan jumlah tenaga kerja yang terserap.

Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi pada 2025 mencapai Rp1.931,2 triliun. Dari jumlah tersebut, penyerapan tenaga kerjanya mencapai 2.710.532 orang. Artinya, setiap satu orang tenaga kerja membutuhkan investasi sebesar sekitar Rp712,48 juta.

Dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yaitu 2024, realisasi investasi hanya mencapai Rp1.714,2 triliun, atau turun sebesar Rp217 triliun (12,66%) dibandingkan realisasi tahun ini. Namun, penyerapan tenaga kerjanya meningkat menjadi 2.456.130 orang. Dengan demikian, rata-rata investasi per satu tenaga kerja pada 2024 hanya sebesar Rp698,1 juta, atau lebih rendah sekitar Rp13,8 juta dibandingkan 2025.

Ini menunjukkan bahwa rasio penyerapan tenaga kerja terhadap realisasi investasi mengalami penurunan. Meski nilai investasi tumbuh positif, penyerapan tenaga kerjanya justru semakin memburuk.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengakui bahwa penyerapan tenaga kerja adalah tujuan utama dari investasi. Namun, ia menyatakan bahwa investasi yang terealisasi saat ini kurang berkualitas.

“Penyerapan pekerjaan ini adalah hal paling esensial, sebagai parameter kami dalam menilai investasi yang masuk. Tahun ini, ada sekitar 2.710.532 orang yang terserap, atau meningkat 10,4% dibandingkan tahun sebelumnya,” ujarnya dalam konferensi pers di kantor Kementerian Investasi/BKPM, Jakarta, Kamis (15/1/2026).

Salah satu sektor yang mengalami peningkatan realisasi investasi terbesar adalah hilirisasi. Pada 2025, total realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp584,1 triliun, meningkat drastis 43,3% dibandingkan capaian 2024 (Rp407,8 triliun). Mayoritas modal masuk ke sektor mineral sebesar Rp373,1 triliun atau 63,9% dari total realisasi investasi hilirisasi 2025.

Namun, proyek hilirisasi mineral lebih membutuhkan modal daripada tenaga kerja karena termasuk capital intensive (padat modal) bukan labor intensive (padat karya). Rosan mengakui bahwa investasi di sektor hilirisasi mineral seperti nikel tidak terlalu signifikan dalam menyerap banyak pekerja.

“Investasi di sektor mineral seperti nikel bisa mencapai US$1 miliar, US$2 miliar, atau bahkan US$3 miliar, tetapi itu lebih kepada capital intensive,” ujar Rosan dalam Kompas100 CEO Forum 2025, Rabu (26/11/2025).

Oleh karena itu, pemerintah berencana mengembangkan proyek hilirisasi yang berjenis padat karya. Meskipun nilai investasi di proyek tersebut lebih kecil dibandingkan proyek padat modal, penyerapan tenaga kerjanya jauh lebih besar.

Rosan memberikan contoh hilirisasi di bidang perkebunan, yaitu kelapa. Menurutnya, sudah ada investasi sebesar US$100 juta yang mulai dibangun pada tahun ini. Meskipun nilainya tergolong kecil jika dibandingkan investasi di sektor mineral, penyerapan tenaga kerjanya sangat besar.

“Investasinya hanya US$100 juta, tapi penyerapan tenaga kerjanya dari tiga fase itu, satu fase sudah selesai tahun ini. Fase satu itu [serap] 5 ribu orang [tenaga kerja]. Tiga fase ini kelar, tahun depan [akan serap] 10 ribu orang,” ungkap Rosan.

Dia menegaskan bahwa Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM akan terus mendorong investasi langsung di proyek hilirisasi padat karya lainnya. Contohnya adalah rumput laut.

“Kita adalah penghasil nomor 2 terbesar rumput laut sesudah China. Tetapi kalau kita bicara mengenai tropical seaweed [rumput laut tropis], Indonesia nomor 1. Sebagian besar ini dilakukan oleh para petani rumput laut di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *