Sejarah Indonesia dalam Perolehan Juara Umum SEA Games
Indonesia sejak lama tidak lagi mampu meraih predikat juara umum dalam perhelatan SEA Games. Terakhir kali keberhasilan itu terjadi pada 2011, ketika pesta olahraga dua tahunan tersebut diselenggarakan di Jakarta dan Palembang. Pada edisi tersebut, Indonesia menjadi juara umum yang ke-10 dalam sejarah SEA Games.
Pencapaian ini juga menjadi pelepas dahaga bagi Indonesia karena sebelumnya, tim Merah Putih hanya mampu meraih gelar juara umum pada 1997, saat menjadi tuan rumah. Sementara itu, ketika Indonesia menjadi peserta biasa, gelar juara umum terakhir diraih pada 1993 di Singapura. Saat itu, kontingen Merah Putih berhasil meraih total 253 medali dengan rincian 88 emas, 81 perak, dan 84 perunggu.
Pada SEA Games ke-17 tersebut, Indonesia berhasil mengungguli Thailand dengan margin besar, yaitu selisih 25 medali emas. Status juara umum pada waktu itu sangat jelas dan tak terbantahkan. Namun, sejak saat itu, Indonesia belum pernah kembali meraih gelar juara umum saat tidak menjadi tuan rumah. Bahkan, menempati peringkat dua pun terbilang sulit, karena hanya terjadi sekali pada 1995.
Dari edisi 1999 hingga 2023, pencapaian terbaik Indonesia hanya sampai pada posisi ketiga klasemen akhir SEA Games. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar mengapa skuad Merah Putih sulit berjaya bahkan saat tidak menjadi tuan rumah.
Pembinaan Olahraga yang Belum Optimal
Menurut pengamat olahraga Djoko Pekik, salah satu faktor utama yang menyebabkan kesulitan Indonesia meraih juara umum adalah pembinaan. Menurutnya, sistem pembinaan di Indonesia masih belum berjalan baik. Di sisi lain, negara-negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam telah melakukan pembinaan secara serius, terstruktur, dan sistematik.
“Ada beberapa masalah yang menyebabkan kita agak susah untuk menjadi juara umum. Selain kompetitor kita yang sangat serius dalam pembinaan, kita juga perlu memperbaiki sistem pembinaan di dalam negeri,” ujar Djoko.
Ia menjelaskan bahwa sistem pembinaan usia muda belum dilakukan secara optimal oleh semua cabang olahraga (cabor). Meskipun banyak klub dari berbagai cabor sudah melakukan pembinaan, praktiknya masih ala kadarnya dan tidak memenuhi standar yang baik.
Program DBON dan Tantangan di Masa Depan
Saat ini, Indonesia memiliki program pembangunan olahraga jangka panjang 2021-2045, yaitu Desain Besar Olahraga Nasional (DBON). Tujuan dari DBON adalah menciptakan sistem pembinaan olahraga yang efektif, meningkatkan prestasi nasional, serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan olahraga.
Dalam DBON, ada 14 cabor unggulan yang menjadi prioritas Kemenpora, antara lain atletik, panahan, sepeda, dayung, senam, angkat besi, bulu tangkis, taekwondo, karate, wushu, panjat tebing, menembak, pencak silat, dan renang. Ada juga tiga cabor industri, yaitu sepak bola, bola basket, dan bola voli.
Meski DBON dianggap bagus, Djoko menilai perlu adanya revisi agar program tersebut bisa berjalan maksimal dan memberikan hasil yang nyata. Salah satu rencana revisi yang sudah diajukan oleh Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, adalah menambah jumlah cabor unggulan dari 14 menjadi 21.
Enam Variabel Penting dalam Prestasi Olahraga
Dalam perbincangan dengan Wartajayavision.com, Djoko Pekik juga menyebutkan enam variabel penting dalam meraih prestasi olahraga:
- Ketersediaan pelatih yang andal: Kompetensi pelatih di Indonesia masih kurang dibanding negara maju. Setiap federasi cabor perlu melakukan pelatihan yang berujung pada ketersediaan pelatih potensial.
- Sarana dan prasarana: Bukan hanya venue dan lapangan, tetapi juga anggaran. Anggaran masih menjadi masalah dalam pembinaan olahraga.
- Implementasi sport science: Proses pembinaan modern tidak bisa lepas dari sport science yang diterapkan sejak awal.
- Sistem kompetisi berkualitas: Setiap cabor membutuhkan kompetisi berjenjang dan berkelanjutan.
- Talent scouting: Proses pemantauan bakat sangat vital agar Indonesia bisa meraih prestasi.
- Motivasi atlet: Ketersediaan atlet dengan talenta dan motivasi tinggi menjadi faktor internal yang sangat krusial.
Masalah Anggaran dan Implementasi Program
Djoko juga menyampaikan bahwa program-program yang dirancang pemerintah sejak dulu sebenarnya bagus. Contohnya Garuda Emas, Indonesia Bangkit, Atlet Andalan, Prima, PPON jelang Asian Games 2018. Namun, ia menyoroti implementasi program yang dinilainya tidak konsisten.
Anggaran dari pemerintah juga masih rendah, yaitu kurang dari setengah persen dari APBN. Meskipun pemerintah sudah berupaya meningkatkan dana olahraga melalui revisi UU Keolahragaan, dana dua persen dari APBN untuk olahraga belum disetujui.
Persiapan Jelang SEA Games
Persiapan para cabor jelang SEA Games kerap mepet karena keterbatasan dana. Djoko berharap tiap cabor ke depan bisa terus menjalankan pemusatan latihan tanpa putus. Ia juga menekankan pentingnya keseriusan dalam membina olahraga dan penyiapan anggaran yang cukup.









