Wartajayavision.com,, Jakarta – Lima kampus di Indonesia, termasuk Universitas Airlangga (Unair), masuk kategori red flag atau berbahaya dalam penilaian integritas penelitian akademik, Research Integrity Risk Index (RI2). Lembaga Inovasi Pengembangan Jurnal, Penerbitan, dan Hak Kekayaan Intelektual (LIPJPHKI) Unair pun buka suara.

Ketua LIPJPHKI Unair Prof. Hery Purnobasuki membenarkan adanya penilaian itu. Menurut dia, penilaian itu berdasarkan publikasi riset dari peneliti Unair yang terbit pada jurnal yang telah discontinue atau berhenti terindeks Scopus karena berbagai macam indikator. “Indikatornya banyak, bukan berarti penelitiannya jelek,” ucap Hery kepada Tempo, Selasa 8 Juli 2025.

Hery mengatakan, pihaknya langsung melacak riset-riset Unair yang terbit di jurnal discontinue. Hasilnya, sebagian terbit sebelum 2020 dan puncaknya pada tahun 2020 juga. “Nah, LIPJPHKI Unair baru berdiri 2020. Selama lembaga ini berdiri, jumlahnya semakin turun,” ucap Hery.

Menurut dia, sebagian peneliti yang terdiri dari dosen maupun mahasiswa belum terarah untuk mempublikasikan karya atau risetnya, terutama sebelum LIPJPHKI Unair berdiri. Mereka pun seringkali terjebak pada jurnal-jurnal yang tidak bagus reputasinya.

Selain itu, ada peneliti yang sengaja mengajukan penelitiannya ke beberapa jurnal secara bersamaan. Padahal, hal itu melanggar etika. Sebab, jika artikel muncul di lebih dari satu jurnal, maka salah satu harus ditarik. “Nah paper yang ditarik semacam ini kan menjadi data internasional,” ucap Hery.

Dosen Biologi Unair itu menjelaskan bahwa LIPJPHKI tengah berusaha agar peneliti Unair tidak lagi terjebak dalam kondisi seperti itu. Karenanya, LIPJPHKI Unair membuat sejumlah strategi, seperti membuat buku dan pelatihan tentang etika publikasi, hingga pelayanan konsultasi penerbitan karya ilmiah.

Strategi ini dinilai cukup berhasil dalam lima tahun terakhir. Sebanyak tiga ribu artikel ilmiah dari Unair telah terindeks Scopus, dan hampir 40 persennya terbit di jurnal kuartil 1 (Q1) atau tertinggi.

“Unair juga sudah punya 20 jurnal internal yang terindeks Scopus. Ini terbanyak se-Indonesia dan kami mendorong peneliti untuk menerbitkan karyanya di jurnal internal agar tidak bergantung dengan jurnal di luar negeri,” papar Hery.

Selain itu, pihaknya juga membuat sistem indeks internal. Sistem ini memungkinkan peneliti Unair memeriksa jurnal mana yang memiliki reputasi yang baik dan cocok untuk menerbitkan karyanya. “Intinya kami sudah sering memberi peringatan kepada peneliti di kampus dan trennya memang semakin berkurang yang masuk jurnal predator,” pungkasnya.

Sebelumnya, lima kampus di Indonesia masuk dalam kategori red flag atau potensi pelanggaran sistemik dalam integritas akademiknya, terutama penelitian yang dihasilkan. Lima kampus itu adalah Bina Nusantara University (Binus), Unair, Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Hasanuddin (Unhas), dan Universitas Sebelas Maret (UNS).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *