PRESIDEN AS Donald Trump, yang saat berkampanye berjanji akan mengakhiri perang Ukraina dalam 24 jam setelah menjabat, kini menunjukkan kekecewaan mendalam karena konflik tersebut belum juga berakhir setelah lebih dari empat bulan. Rusia justru memperkuat serangan dengan pengeboman intensif terhadapUkraina dalam beberapa hari terakhir.

Kekesalahan Trump disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Amerika SerikatMarco Rubio, setelah bertemu Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, dalam rangka KTT ASEAN di Malaysia. Pertemuan kedua ini berlangsung selama 50 menit pada Kamis dan membahas perang di Ukraina yang masih berlangsung.

Rubio memberi tahu jurnalis bahwa Trump merasa kecewa karena tidak ada indikasi fleksibilitas dari Rusia dalam mengakhiri konflik. Rubio juga menyampaikan bahwa selama pertemuan tersebut, mereka saling bertukar beberapa ide baru atau pendekatan berbeda yang dapat menjadi arah menuju penyelesaian perselisihan, meskipun belum ada jaminan bahwa ide-ide tersebut akan langsung mengarah pada perdamaian.

Apa Pilihan Trump?

Kehcewaan terhadap Putin membuat Trump akhirnya memutuskan mendukung Ukraina dalam konflik tersebut. Ia telah mengumumkan rencana pengiriman sistem rudal pertahanan udara Patriot ke Ukraina.

Keputusan ini mencabut pernyataannya sebelumnya tentang menghentikan sementara pengiriman senjata ke Kyiv pada awal Juli. “Kami akan mengirim lebih banyak senjata. Kami harus melakukannya. Mereka perlu bisa bertahan. Saat ini mereka sedang mengalami tekanan yang sangat berat,” ujar Trump pada 8 Juli, sebagaimana dilaporkanAl Jazeera.

Trump menekankan bahwa pengiriman senjata ini penting karena Ukraina membutuhkan perlindungan yang sangat mendesak, sambil mengulangi kekecewaannya terhadap Putin yang dinilainya berbicara dengan lembut tetapi bertindak membahayakan di medan perang.

Meskipun telah menyetujui pengiriman tersebut, Trump tetap waspada dalam mengurangi persediaan rudal Amerika Serikat, dengan catatan bahwarudal Patriotmemiliki sifat yang rumit dan tidak gampang digantikan. Menteri Pertahanan Pete Hegseth telah mengenali baterai Patriot yang berada di Jerman dan Yunani sebagai sumber yang mungkin untuk pendanaan serta pengiriman ke Ukraina, dengan pembicaraan yang telah berlangsung selama beberapa bulan.

Mengapa Sikap Trump terhadap Rusia Berubah?

Axiosmelaporkan bahwa perubahan kebijakan AS ini diakibatkan oleh panggilan telepon antara Presiden Trump dan Presiden RusiaVladimir Putinpada 3 Juli. Selama panggilan tersebut, Putin dilaporkan menjelaskan rencana serangan terbaru untuk menguasai seluruh wilayah Ukraina yang dikuasai dalam jangka waktu 60 hari.

Meskipun Putin pernah menawarkan jeda sementara dalam pertempuran, Rusia belum menerima usulan Amerika Serikat mengenai gencatan senjata tanpa syarat selama 30 hari, yang telah disetujui oleh Ukraina. Rusia berpendapat bahwa gencatan senjata ini dapat dimanfaatkan oleh Ukraina untuk menggerakkan pasukan dan memperkuat persenjataannya.

Saat ditanya oleh jurnalis apakah ia akan mengambil langkah terhadap kekecewaannya terhadap Putin, Trump enggan menyampaikan rencananya dengan berkata, “Saya tidak akan memberi tahu Anda. Bukankah kita ingin sedikit kejutan?”

Namun, para analis memperingatkan agar tidak menganggap Trump siap bertindak keras terhadap Rusia. Keir Giles, pakar senior di Chatham House, berpendapat bahwa meskipun ada harapan dari komunitas internasional, belum ada bukti nyata perubahan kebijakan Amerika Serikat terkait sikap Trump terhadap Putin.

Siapa yang menanggung biaya pengiriman senjata tersebut?

Namun, pengiriman senjata tersebut tidak termasuk dalam bantuan militer Amerika Serikat kepada Ukraina. Trump mengungkapkan kepada NBC bahwa senjata-senjata ini akan dijual kepada NATO, yang akan membayar seluruhnya untuk senjata tersebut. NATO kemudian akan menyalurkannya ke Ukraina. “Kami mengirim senjata ke NATO, dan NATO akan membayar senjata-senjata itu sepenuhnya,” ujar Trump kepadaNBC.

Trump menyatakan bahwa perjanjian ini telah disetujui dalam Konferensi Tingkat Tinggi NATO di Den Haag pada bulan Juni.

Bagaimana Reaksi Pendukung MAGA?

Donald Trump pernah menghentikan bantuan militer kepada Ukraina pada Februari 2025 setelah terjadi perselisihan yang sangat keras dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Gedung Putih. Trump menuduh Zelensky telah meminta Amerika Serikat untuk menyediakan dana sebesar 350 miliar dolar dalam perang yang menurutnya tidak mungkin dimenangkan oleh Ukraina.

Namun, setelah beberapa minggu, Trump kembali melanjutkan pemberian bantuan tersebut. Dari Januari 2022 hingga April 2025, Amerika Serikat telah memberikan sekitar 134 miliar dolar bantuan kepada Ukraina, berdasarkan data dari Kiel Institute for the World Economy.

Kelompok pendukung Trump yang terkenal dengan basisnyaMAGAmengkritik kebijakan pendanaan Amerika Serikat terhadap Ukraina. Ketika Trump mengumumkan kelanjutan pengiriman senjata ke Ukraina, beberapa warga Amerika yang konservatif menunjukkan rasa kecewa mereka. Misalnya, Derrick Evans, seorang pendukung Trump yang terlibat dalam serangan Gedung Kongres pada 6 Januari 2021 dan kemudian diampuni oleh Trump, menulis di platform X bahwa ia tidak setuju dengan kebijakan tersebut. Selain itu, pasangan media sosial konservatif Keith dan Kevin Hodge juga meragukan keputusan Trump untuk memberikan lebih banyak senjata ke Ukraina.

Apakah Amerika Serikat dan Rusia Tidak Lagi Terlibat Dalam Upaya Diplomasi?

Meskipun Trump memutuskan untuk mengirim senjata, diskusi antara Rubio dan Lavrov menunjukkan bahwa Amerika Serikat belum menyerah pada pendekatan diplomatik.

Rubio menyampaikan kepada para jurnalis pada hari Jumat bahwa Amerika Serikat dan Rusia telah bertukar gagasan-gagasan baru mengenai perdamaian di Ukraina. “Saya rasa ini merupakan pendekatan yang baru dan berbeda,” kata Rubio, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut tentang maksud dari “pendekatan baru” tersebut.

Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan dalam rilis berita bahwa Amerika Serikat dan Rusia telah mengadakan “pertukaran pendapat yang mendalam dan jujur mengenai penyelesaian masalah di Ukraina” serta akan terus menjalani dialog yang konstruktif.

Pernyataan tersebut menambahkan: “[Rusia dan AS] telah memperkuat komitmen bersama untuk mencari penyelesaian damai terhadap situasi konflik serta melanjutkan kerja sama ekonomi dan kemanusiaan antara Rusia dan AS.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *