Baru-baru ini, topik politik dan pemerintahan menjadi perbincangan hangat. Banyak orang ketinggalan informasi, terutama kalangan pemuda. Namun, tahu tidak, bahwa buku dengan tema sejarah atau politik bisa menjadi salah satu cara untuk tetap up-to-date dan memahami dinamika politik di masyarakat, bahkan dalam lingkaran pertemanan kita sendiri.
Buku semacam ini umumnya ditulis oleh seorang penulis dalam jangka waktu yang lama, dengan melakukan penelitian dan usaha yang besar. Sebagai pembaca, kita dapat menyelami serta mengambil ide-ide dari penulis yang telah mereka tuangkan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun hanya dalam beberapa hari.
Politik tidak hanya terkait dengan pemilihan umum, tetapi juga melibatkan keputusan-keputusan yang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari. Mulai dari harga kebutuhan pokok, bahan bakar minyak, pendidikan, hingga biaya layanan kesehatan. Banyak kalangan muda merasa bahwa membicarakan politik hanya memperumit pikiran, padahal jika kita tidak menyuarakan pendapat dan bertindak, siapa lagi yang akan melakukannya?
Tidak wajib menjadi aktivis atau mengadakan demonstrasi besar-besaran untuk bisa melek politik, cukup dengan memperhatikan apa yang sedang terjadi sudah merupakan langkah penting. Salah satu cara untuk lebih peduli dan melek politik adalah dengan membaca buku, berikut ini 3 daftar buku yang harus dibaca oleh Gen Z sepanjang hidupnya:
“Binatang Farm” — George Orwell
Salah satu karya George Orwell yang saat ini sedang menjadi topik pembicaraan, karena ia menyampaikan pandangan tentang demokrasi yang tertutup oleh kekuasaan otoriter dalam bukunya. Seperti yang tercantum dalam judulnya, cerita ini mengisahkan para hewan di sebuah peternakan. Selain bercerita tentang politik, alur ceritanya sangat mampu mengguncang perasaan pembaca.
Hewan-hewan di Pertanian Manor hidup dalam penderitaan karena sikap kasar dari tuannya, Jones. Pada suatu hari, hewan-hewan tersebut lupa diberi makan, sehingga mereka melakukan pemberontakan dan merebut pertanian dari tangan manusia, dengan harapan semua hewan bisa hidup bebas dan bahagia. Namun akhirnya pemberontakan itu dibohongi, dan nasib hewan-hewan tersebut justru lebih buruk daripada sebelumnya, di bawah pemerintahan seorang babi bernama Napoleon.
Cerita buku ini cocok bagi generasi Z yang menyukai bacaan singkat yang dapat selesai dibaca dalam satu hari, buku Animal Farm hanya terdiri dari 149 halaman.
“Samudra Berbicara” — Leila S. Chudori
Karya dari penulis Leila S. Chudori kini kembali mendapat perhatian karena menceritakan kisah penyelundupan aktivis yang terjadi di Indonesia.
Laut bercerita, sebagaimana judul bukunya. Buku ini menceritakan tentang seorang aktivis bernama Laut dan teman-temannya yang menceritakan kisah keluarga yang kehilangan, sekelompok sahabat yang merasakan rasa kosong di hati, sejumlah orang yang suka menyiksa dan mudah berkhianat, beberapa keluarga yang mencari kejelasan tempat pemakaman anak mereka, serta tentang cinta yang tak akan pernah pudar.
Buku ini mengajak pembacanya kembali ke masa lalu, sangat cocok bagi generasi Z yang lahir dan tumbuh di era modern.
“1984” — George Orwell
Kembali kepada penulis George Orwell, setelah merilis bukunya yang berjudul “Animal Farm”, George Orwell mengeluarkan karya “1984” pada tahun 1949, sebuah buku yang menjadi kritik tajam Orwell terhadap pengawasan penuh dalam masyarakat serta pemerintahan otoriter modern. Dengan konsep fiksi ilmiah dan dunia dystopia politik, George Orwell berhasil menciptakan sebuah buku yang hingga saat ini masih tetap relevan untuk dibaca.
Kondisi politik memang tidak akan berubah hanya dengan membaca buku, tetapi dunia politik juga tidak akan berubah jika kita tetap acuh. Setidaknya dengan berusaha memahami politik, kita juga akan lebih peduli terhadap setiap kebijakan yang ada. Generasi Z adalah generasi yang paling menguasai teknologi, dan tidak salah jika diiringi dengan menjadi generasi yang paling kritis juga. Mari mulai dari satu buku, karena dari satu buku akan muncul sebuah pemahaman.









